Halal Indicates Excellent Quality of a Product

Screen shot 2013-05-15 at 10.27.13 PMSource: [Unpad.ac.id, 25/02/2013]

Within the perspective of Sharia, food products require halal labeling. The label however has expanded its definition from kosher or edible food for Muslim into quality assurance.

According to Dr. Dwi Purnomo, STP., MT., a lecturer in the Faculty of Agriculture Industrial Engineering Unpad, the labeling has encouraged world’s food product to focus more on halal agroindustries. “Halal has now become a standard for high quality of a product. When we buy halal product, we can be certain that the product is of the best quality,” said he.

Nowadays, customers have shifted into consuming halal products for they know that the labeling guarantees their quality. “However, certification is seen as voluntary instead of mandatory. This means that the food manufacturers have yet to see them as obligation despite its huge market,” he added.

Indonesia is still importing halal products from Malaysia and Thailand. This is due to the fact that the cooperation among stakeholders, the government, manufacturers, and users is still wanting. This becomes the main obstacle for Indonesia to excel in creating major halal products.

“Malaysia, among many other nations, has envisioned itself as the largest halal product manufacturer. It has its own port, halal industrial areas, and numerous restaurants with halal kitchens,” said he. Purnomo shows great interests in halal agroindustry because he realizes that Indonesia possesses great potentials when its agriculture products are developed into halal products that imply their excellent quality. It is therefore necessary that food manufacturers in Indonesia be aware of the fact that halal labeling does not only meet sharia law but also indicate the excellent quality of a product.

Purnomo has a vision of making Indonesia’s agroindustry as the locomotive of Indonesian economy. In making this come true,  universities have to take part in teaching halal science and developing, for example, halal centers for halal agroindustry studies. “Unpad is planning to build a halal center, collaborating with related institutions,” he added.

As a researcher, Dr. Dwi Purnomo hopes that his knowledge would contribute to the benefit of the society at large. His pieces of research have been presented in numerous international seminars. The latest on Design Thinking for Creative Learning Program Development of Competence-based Curriculum  was presented on February 18 and 19, 2013, in the National Conference on Innovation and Technopreneurship 2013, organized by RAMP Bogor Institute of Agriculture, Department of Agriculture Engineering, The Lemeison Foundation, and Directorate General of Higher Education the Ministry of Culture and Education.

Wanita Pemberdaya dari Leuweung Tangkil

 

20130222_084718Emping melinjo selama ini dipandang sebelah mata sebagai teman makan yang tidak lebih bernilai dari pada penganan tradisional lainnya karena lebih dipandang sebagai penyebab asam urat dengan nilai ekonomis redah, namun pada kenyaataannya peminat emping melinjo masih sangat besar terlebih karena keunikan rasa dan aromanya yang khas.

Rasa yang gurih dan teksturnya yang renyah ternyata memiliki latar belakang cerita perjuangan yang panjang. Di Desa Narimbang Kabupaten Sumedang, sebuah lokasi terpencil di tepi Gunung Tampomas Jawa Barat ternyata menyimpan geliat ekonomi yang sangat baik melalui kegiatan agroindustri berbasis melinjo. Kegiatan ini mampu memberikan nilai tambah signifikan bagi pengembangan perekonomian setempat. Dibalik infrastruktur yang terbatas, semangat warganya sungguh memberi inspirasi, tidak pupus begitu saja karena letaknya yang terpencil, namun tetap bergeliat dengan semangat yang memacu untuk tetap memiliki produktivitas yang tinggi.

Desa Narimbang, dikarunai alam yang sangat indah, mengandung banyak potensi sumber daya alam dan pertanian yang sangat bernilai dan menjadikannya sebagai salah satu sentra penghasil emping melinjo yang terbesar di Jawa yang cukup baik mutunya. Emping melinjo dihasilkan dengan memberdaakan puluhan kelompok dan salah satu penghasilnya adalah kelompok yang dipimpin oleh seorang Ibu bernama Epon dengan Merknya Neng Hery. Kelompok ini dalam kesehariannya mampu memberikan cerita lain dari sekedar sekeping emping yang dibalik itu terdapat upaya bernilai pembelajaran dan penghargaan yang sangat tinggi dalam membangun warga disekitarnya dengan dedikasi dan kesungguhan yang tinggi sehingga mampu menjadi lokomotif perekonomian melalui produksi emping melinjo.

Proses produksi emping melinjo yang sederhana pada umumnya beasal dari sebuah dapur berwujud dapur produksi yang biasa dibahasakan sebagai hawu, hawu yang berwarna kehitaman dikarenakan jelaga api pembakaran tungku-tungku sangrai melinjo yang menyala dari pagi hinga sore hari.  Dilengkapi dengan alas batu berdiamater 50cm, dan tampak beraneka macam kampak baja kecil yang dipergunakan untuk menumbuk melinjo mejadi ribuan keeping emping setiap harinya.

Meskipun produknya terlihat cantik namun dan dibalik kesedehanaan produk dan proses produksinya tersebut, ternyata agroindustri melinjo ini menyimpan berbagai permasalahan pelik dari hulu ke hilir, salah satunya adalah ketersediaan sepanjang tahun yang sulit karena ketika panen raya yang berlangsung satu tahun sekali, jumlah bahan baku yang sangat besar belum diimbangi dengan adanya teknologi penyimpanan  sehingga mutu buah melinjo menurun dengan berbagai sebab dan menyebabkan kelangkaan di tengah musim non-panen.

Dari sisi pengrajin, walaupun pengolahan emping melinjo dilakukan oleh para wanita secara tradisional telah dilakukan turun menurun sejak puluhan tahun lamanya juga menyimpan beberapa permasalahan. Dalam proses pembuatannya, para pengrajin emping duduk di lantai yang dekat dengan tungku pembakaran. Hal ini dilakukan dalam jangka panjang sehingga dapat mengakibatkan efek buruk bagi kesehatan pengrajinnya. Beberapa diantaranya adalah dampak pada penglihatan karena asap pembakaran, bentuk tulang punggung yang perlahan berubah, tangan kanan yang lebih besar dikarenakan penggunaan tangan kanan untuk menumbuk selama enam-tujuh jam per harinya, hingga keluhan penurunan fungsi ginjal karena posisi duduk yang terus menerus dilakukan selama bertahun-tahun.

Dibalik berbagai kesederhanaan dan ancaman kesehatan bagi pengrajinnya, emping melinjo berhasil bertahan sebagai usaha yang merakyat. Ibu Epon, seorang wanita pemberdaya wanita lainnya di Desa Narimbang, perlu diapresiasi peranannya dengan semangatnya untuk memberdayakan wanita di Desa ini untuk memproduksi emping melinjo dengan mutu yang unggul. Disertai dengan usahnya mencari jawaban atas berbagai permasalahan yang dihadapinya dengan mau dan berani mengembangan jejaring perkenala dan usahanya dari berbagai keahlian. Dengan menaungi tujuh hingga sembilan kelompok  wanita dengan anggota per kelompok wanitanya mencapai lima hingga tujuh orang mampu menciptakan geliat ekonomi yang sangat baik di sebuah desa di tepi hutan melinjo atau yang biasa disebut sebagai leuwueng tangkil ini.

Pemberdayaan inilah yang senantiasa pelu dicontoh oleh masyarakat luas, terutama generasi muda. Disinilah diuji ketulusan bagaimana sebuah usaha dirintis dengan mengutamakan kemajuan bersama dan dilakukan secara persisten dan berkelanjutan meski di daerah terpencil sekalipun. Pendekatan dengan hati adalah istilah yang tepat dipilih karena pendekatan yang dilakukan dengan mengutamakan kekeluargaan namun dengan kandungan profeisonal yang sangat kental. Ibu Epon, adalah tauladan bagi pengembangan usaha berbasis masyarakat dipedesaan yang pantang menyerah dimana secara perlahan mampu memberikan nilai tambah dari komoditas yang sebelumnya terpinggirkan menjadi komditas yang memiliki pasar yang luas. Keinginannya dalam pengembangan komoditas melinjo berkelanjutan diikuti dengan kemampuan lifetime learning yang sangat baik, keberaniannya dalam mengembangkan jejaring perlu ditauladani sehingga sosok wanita sederhana ini mampu memberdayakan bagitu banyak wanita yang menjadi tulang punggung perekonomian di daerahnya. Sebuah tauladan bagi bentuk kewirausahaan yang tidak semata-mata berorientasi komersil, namun dari sebuah niatan dan tujuan untuk menghasilkan social benefit melaui proses pembelajaran yang ditekuni secara serius. Proses tersebut berakibat pada peningkatan ekonomi yang signifikan bukan saja pada pelaku, namun bagi banyak pengrajin yang bernaung dibawahnya. Bukan hanya itu proses yang dilakukannya juga sangat berarti bagi kalangan lain seperti perguruan tinggi yang memperoleh berbagai topik dan hasil penelitian yang baik dari hasil pengalamannya serta pihak-pihak lain yang berhasil direkatkan melalui jejaring yang baik.

Penulis : Dr. Dwi Purnomo

Dosen Fakultas Teknologi Industri Pertanian Unpad

 

Terbukti Shahih, Halal Sebagai Faktor Untuk Ekspansi Pasar

20a469f9e45f5b94d97c8abef0a5e4d9Jakarta – Hasil penelitian Dwi Purnomo, STP.,MT., yang diungkap dalam disertasi doktornya menyebutkan halal bagi beberapa Negara ASEAN seperti Malaysia dan Thailand, telah menjadi faktor ekspansif dan ofensif, sekaligus  sebagai aspek keunggulan untuk memperluas pasar ekspor produk Negara-negara tersebut ke luar negeri, terbukti shahih dan mengemuka dengan perkembangan yang terjadi mutakhir. Ada banyak produk konsumsi dari luar negeri, yang diaudit oleh tim LPPOM MUI dan mendapat Sertifikat Halal (SH) dari MUI, meski di negara asalnya telah ada lembaga sertifikasi halal yang menjadi mitra dan diakui oleh MUI. Diantaranya adalah produk ikan dan sayuran dalam kaleng yang dihasilkan oleh sebuah perusahaan di Malaysia.

Perusahaan dari Taiping, Malaysia, yang menghasilkan produk ikan dan sayuran kalengan mengajukan proses sertifikasi halal ke LPPOM MUI. Perusahaan tersebut menggunakan bahan-bahan yang telah mendapat Sertifikat Halal dari JAKIM (Jawatan Kemajuan Islam Malaysia) yang merupakan lembaga mitra dan telah diakui oleh MUI.

Dalam laporan oleh Dr. Liesbetini Hartoto, MS tentang hasil audit yang dilakukan oleh LPPOM MUI kepada para ulama pada Sidang Komisi Fatwa, beberapa waktu lalu, dikemukakan, seraya mengutip penjelasan yang diungkapkan oleh Mohammad Hisham Talib, pejabat perusahaan produsen makanan kalengan dari Malaysia itu yang mendampingi tim auditor LPPOM MUI ketika melakukan audit ke pabriknya, bahwa perusahaannya mengajukan proses sertifikasi halal ke LPPOM MUI agar dapat memperoleh Sertifikat Halal dari MUI, meskipun sebagian bahannya yang dipergunakan dalam proses produksi produk tersebut telah mendapat SH dari JAKIM.

Sebagaimana diungkapkannya, “Kami mengajukan proses sertifikasi halal kepada LPPOM MUI ini agar dapat memperoleh Sertifikat Halal dari MUI.” Hal ini dimaksudkannya, jelasnya lagi, agar dengan SH dari MUI itu, dapat lebih mudah melakukan ekspansi pasar ke Indonesia.

Pasar Halal Sangat Besar

Memang, dengan jumlah populasi mencapai 220 juta jiwa, dan penduduk muslim lebih dari 80%, Indonesia merupakan pasar bagi produk halal yang sangat besar dan menggiurkan bagi kalangan pengusaha di dalam maupun luar negeri. Dan ini sangat dipahami serta disadari oleh banyak pengusaha serta produsen luar negeri. Kondisi ini hendaknya dapat memacu kalangan pengusaha domestik untuk lebih concern dengan kehalalan produk yang dihasilkan, dengan sertifikasi halal oleh MUI.

Karena memang tidak ada masalah dari sisi kehalalannya, produk dari perusahaan Malaysia ini pun ditetapkan halal bersama 36 perusahaan lain yang mengajukan proses sertifikasi halal kepada LPPOM MUI dalam sidang KF yang baru lalu itu, mencakup berbagai macam produk. Diantaranya adalah produk jamu dalam sediaan obat, pati termodifikasi, cocoa product, flavor, acidulant, frozen bakery, minyak goreng, susu UHT, dan masih banyak lagi yang lainnya. (Usm).

Perlindungan Halal Oleh MUI Dalam Disertasi Doktor

humas unpad 2013_02_20 011644Bogor – Menurut hasil penelitian Dwi Purnomo, STP.,MT., yang diungkapnya dalam ujian sidang terbuka disertasi doktornya beberapa waktu lalu di Institut Pertanian Bogor (IPB), visi halal pemerintah Indonesia lebih bersifat defensif, yakni dalam batas-batas tertentu hanya untuk melindungi konsumen dalam negeri. Sedangkan Negara-negara lain di ASEAN dalam disertasinya berjudul “Strategi Pengembangan Agroindustri Halal Dalam Mengantisipasi Bisnis Halal Global”, seperti Malaysia dan Thailand, bahkan juga Singapura, bersifat lebih ekspansif dan ofensif. Halal telah menjadi aspek keunggulan untuk memperluas pasar ekspor produk Negara-negara tersebut ke luar negeri.

Kandidat doktor ini mengemukakan lebih lanjut, standar proses produksi untuk produk-produk yang telah bersertifikasi halal di Malaysia telah sama dengan standar industri. Yang membedakannya hanyalah dalam skala produksi, ada yang berskala industri rumah tangga (IRT), kecil, dan berskala besar, yakni industri menengah dan nasional serta internasional. Sedangkan di Indonesia, terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara produk yang dihasilkan oleh IRT/industri kecil dengan industri besar.

Maka, Dwi menyarankan, agar produk IRT yang telah mendapat sertifikat halal dari MUI dapat juga menembus dan bersaing di pasar yang terbuka saat ini, tentu harus memiliki standar proses produksi yang bersaing pula kualitasnya. Sehingga label halalnya tidak dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Bahkan diharapkan dapat menembus pasar ekspor, seperti yang juga telah dilakukan dan dibuktikan oleh IRT serupa di Malaysia.

Visi Sertifikasi Halal Indonesia Agar Ditingkatkan

Selain itu, dosen Universitas Pajajaran Bandung ini juga menyarankan agar visi sertifikasi halal di Indonesia dapat ditingkatkan, bukan sekedar untuk melindungi umat Islam secara terbatas, seperti yang banyak dikemukakan oleh MUI maupun pemerintah Indonesia dalam Rancangan Undang-undang (RUU) Jaminan Produk Halal (JPH). Karena, Malaysia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, bahkan juga Thailand, dimana Muslim sebagai minoritas, justru telah melangkah jauh dimana aspek halal dijadikan sebagai keunggulan produk dalam bisnis domestik maupun internasional. Sehingga dengan produk yang halal, mereka dapat memperluas cakupan pasar ekspor. Saran dan pertimbangan yang tentu harus menjadi renungan untuk direalisasikan bersama.

Menanggapi presentasi oleh kandidat doktor ini, Prof.Dr.Ir. E. Gumbira Said, M.A.Dev., Ketua Komisi Pembimbing dari IPB mengemukakan, “Kita sangat sedih, halal memiliki nilai bisnis yang sangat besar dan prospektif, namun peran Indonesia masih sangat rendah di pasar halal dunia, khususnya dalam ekspor produk agroindustri halal. Maka kita mengimbau agar pemerintah lebih memperhatikan nilai unggul dari sektor ini untuk meningkatkan kapasitas bisnis sekaligus juga perlindungan umat.”

Sedangkan Dr. Dedi Mulyadi, M.Si., Direktur Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri, Kementerian Perindustrian, penguji dari luar IPB, menandaskan, “Ketentuan halal dapat dijadikan sebagai “non-tariff barrier”, sarana untuk menghambat derasnya arus masuk produk impor agroindustri, seraya juga meningkatkan pangsa pasar domestik kita. Maka jelas kita harus serius di bidang halal ini,” ujarnya lugas. Semoga. (Usm).

Analisis Kekuatan Keunggulan Komparatif dan Kompetitif Indonesia Dalam Meningkatkan Daya Saing Agroindustri Halal 1)

Dwi Purnomo2), E.Gumbira-Sa’id3), Anas M Fauzi3)Khaswar Syamsu3), Muhammad Tasrif4)

 dwighy@yahoo.com

ABSTRAK

halalPengembangan bisnis dan agroindustri halal secara global telah melibatkan 122 negara, termasuk 1,65 miliar jiwa populasi muslim, atau senilai dengan US $ 500 miliar per tahun. Perkembangan bisnis halal global telah berkembang menjadi 12 kelompok industri dan jasa. Agroindustri dan bisnis halal secara internasional telah berdampak luas terhadap bisnis perdagangan dan  keuangan internasional. Tingkat kompetisi yang tinggi dalam bisnis halal terjadi diantara negara-negara berpenduduk Muslim dan non-Muslim, diantaranya adalah negara-negara-anggota ASEAN yang secara  agresif telah menyiapkan produk halalnya untuk bersaing  di pasar global. Penelitian ini mengamati keunggulan Indonesia yang memiliki berbagai keunggulan komparatif dan kompetitif  untuk memetakan kekuatan yang perlu divbangun untuk berhasil dalam persaingan bisnis Halal internasional . Analisis SWOT- kuantitatif digunakan sebagai metode perencanaan strategis dan untuk mengevaluasi kekuatan,kelemahan, peluang dan ancaman yang terjadi pada agroindustri halal eksisting Indonesia.  Lima faktor yang dikelompokkan dianalisa dengan dua belas faktor daya saing yang dinilai untuk mengubah keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif.  Penilaian dilakukan oleh tujuh belas responden pelaku agroindustri halal nasional yang terdiri atas pengambil kebijakan, industri pakar dan pengamat. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa Agroindustri halal dapat menjadi altrenatif kebijakan (skor kekuatan 4,19 dan skor kelemahan -2,25) , yang sangat baik mengingat mampu melibatkan keterkaitan antara pengembangan industri hulu pertanian, industri hilir pertanian serta jasa-jasa pendukung secara harmonis dan simultan.

Kata Kunci : daya saing, Halal, Agroindustri, SWOT-Kuantitatif, ASEAN

ANALISIS RESIKO ATAS PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI MINYAK ATSIRI TERPILIH DI JAWA BARAT

Dwi Purnomo

Jurusan Teknik dan Manajemen Industri Pertanian

Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Universitas Padjadjaran Bandung

e-mail :dwighy@yahoo.com

ABSTRAK

atsiriPenelitian ini membahas mengenai pemilihan komoditas minyak atsiri yang paling layak dikembangkan di  Jawa Barat.  Fokus pada satu komoditas minyak atsiri tentunya akan membuat resiko pengembangannya semakin kecil, karena secara skala ekonomi akan terpenuhi dan kelangsungan aktivitasnya pun akan berkelanjutan. Pemilihan jenis komoditas dilakukan dengan metoda AHP yang kemudian menganalisis aspek permasalahan dan strategi pemecahannya dengan menggunakan metoda NGT dan penilaian Borda. Penelitian kemudian dilanjutkan dengan analisis resiko atas pengembangan komoditas minyak nilam di Jawa Barat dengan mengelompokkan faktor-faktor resiko  ke dalam lima faktor yang teridiri dari faktor Bahan baku, Transformasi, Produk, Pasar dan Lembaga Pendukung. Resiko juga dipetakan berdasarkan prinsip 10 P dalam manajemen resiko yang meberikan sudut padang besaran resiko pada tiap aspeknya.

 

Kata Kunci : agroindustri minyak nilam, komoditas unggulan, analisis resiko