ULASAN BABAKAN SILIWANGI

BABAKAN SILIWANGI

dwi purnomo,

diramu dari berbagai sumber

Kota yang baik merupakan kota yang dapat memfasilitasi kebutuhan masyarakatnya baik dari sisi jasmani maupun rohani. Pembangunan merupakan hal yang tidak dapat dihindari dari perkembangan sebuah kota . Perkembangan sebuah kota jelas terlihat dari pembangunan fisiknya, namun selain pemenuhan kebutuhan yang bersifat fisik, kebutuhan untuk hidup nyaman dan tenang mutlak diperlukan. Ruang terbuka publik dan Ruang terbuka hijau merupakan syarat yang harus dipenuhi bagi kriteria sebuah kota yang baik. Pemerintah harus dapat mengatur peruntukan lahan sesuai dengan potensi dan kegunaan lahan agar kota dapat berkembang dan tetap memenuhi semua kebutuhan masyarakatnya tanpa terjadi diskriminasi. masyarakatpun harus dapat menjaga lingkungan dan berperan serta aktif dalam pembangunan kota agar kota dapat ‘sustain’.

baksil-3

Pemerintah dan masyarakat harus dapat bekerja sama dalam memaksimalkan potensi kotanya. Bandung merupakan kota yang kurang dapat memfasilitasi kebutuhan itu. Ruang terbuka publik yang dapat dimanfaatkan untuk proses bersosialisasi maupun ruang terbuka hijau yang dapat menyeimbangkan Ekologi , tidak memenuhi aturan–aturan yang ada. Babakan Siliwangi merupakan salah satu ruang terbuka hijau yang terdapat di dago utara. Fungsi lahan tersebut sebagai RTH dan selama ini dimanfaatkan oleh para seniman untuk kegiatan berbudaya dan berkesenian(ruang publik). Perkembangan kota membawa dampak tersendiri bagi kawasan ini.

Nilai lahan yang semakin tinggi dan kebutuhan investasi mendorong berbagai pihak untuk dapat lebih memanfaatkan kawasan ini. Runutan Sejarah Pengembangan Baksil Kontroversi mengenai penataan kawasan Babakan Siliwangi sebenarnya sudah muncul sejak lama. Babakan Siliwangi merupakan suatu ruang hijau terbuka alamiah atau hutan kota yang berada di pusat Kota Bandung. Konflik mengenai Babakan Siliwangi terutama berkaitan dengan tarik-menarik kepentingan tentang siapa yang paling berhak menguasai atau mengelola kawasan tersebut. Menurut Paskarina, 2004, Pada tahun 1970-an, tarik-menarik kepentingan ini melibatkan Pemerintah Kota Bandung dan Institut Teknologi Bandung (ITB) namun kemudian berangsung mencapai titik temu sehingga pada awal tahun 1990-an kawasan tersebut dapat dibangun sebagai kawasan wisata alam yang penggunaannya juga bersifat umum dan tidak eksklusif bagi ITB.

Konsep pengembangan dan penataan ulang kawasan Babakan Siliwangi tidak hanya melibatkan pihak Pemerintah Kota sebagai fasilitator dan ITB sebagai operator tapi juga publik secara keseluruhan sebagai pemilik dari kawasan tersebut. Sebagai kawasan yang unik, Babakan Siliwangirentan dengan isu-isu ekologi, transportasi, sosial, ekonomi, sampai pada isu budaya. Babakan Siliwangi dapat dikatakan sebagai kawasan yang sensitif bagi setiap upaya pengembangan walaupun sebagai bagian dari wilayah kota, kemungkinan persentuhan dengan upaya pengembangan merupakan suatu keniscayaan yang tidak terelakkan. Pada tahun 1980-an, rencana pengelolaan Babakan Siliwangi dititikberatkan pada pembangunan Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) sebagai gedung yang berfungsi seperti jembatan yang menghubungkan dua tepian lembah Sungai Cikapundung. Bagian yang menjadi lokasi Sabuga sampai ke tepi Sungai Cikapundung dirancang sebagai ruang air terbuka (danau buatan) yang memiliki fungsi estetis dan hidrologis.

Sementara pada desain yang dibuat akhir tahun 1990-an, mencoba memasukkan fungsi ruang air (di depan Sabuga) sebagai bagian dari penataan elemen landscape di kawasan Babakan Siliwangi. Secara umum, berbagai gagasan yang dikembangkan selama periode 1970 sampai dengan 1990-an berkisar pada upaya memadukan unsur budaya dan unsur alam dalam pengelolaan kawasan Babakan Siliwangi. Perubahan mendasar dalam desain penataan kawasan Babakan Siliwangi mulai tampak ketika Walikota Aa Tarmana melontarkan gagasan untuk mengembangkan Babakan Siliwangi sebagai kawasan wisata terpadu (one stop Bandung art centre) yang di dalamnya memasukkan pula unsur komersial yakni pusat mode, bangunan apartemen (kondominium), wahana kawula muda, pusat seni, serta rumah makan.

Gagasan ini ditindaklanjuti dengan pembentukan Tim Penataan Kawasan Babakan Siliwangi melalui SK Walikota No. 593/2001. Tim ini beranggotakan Bappeda, Dinas Tata Kota, Dinas Bangunan, Badan Penanaman Modal Daerah, Bagian Hukum, serta Dinas Pariwisata. Tim ini bertugas mempertimbangkan setiap proposal yang masuk dari para investor[1]. Dalam perkembangan selanjutnya, muncul konsep pengembangan kawasan Babakan Siliwangi dari Bappeda Kota Bandung yang kemudian masuk ke DPRD Kota Bandung berikut investor yang akan bekerja sama dalam pengelolaannya, yakni PT Esa Gemilang Indah (Group Istana) yang telah menyatakan siap memberikan kontribusi sebesar Rp 22,5 milyar bagi Pemerintah Kota Bandung.

Nota kesepakatan kerja sama antara Pemerintah Kota Bandung dengan PT EGI ini dinyatakan dalam Lembaran Kota (LK) No. 17 Tahun 2002 tentang Penataan Kawasan Babakan Siliwangi. Hasil Panitia Khusus DPRD Kota Bandung athuan 2002, mengungkapkan bahwa rancangan yang diajukan oleh Bappeda pada tahun 2002 untuk pengembangan kawasan Babakan Siliwangi ternyata bukanlah rancangan sendiri tapi hanya mengajukan rancangan yang dibuat oleh PT EGI. Dalam perkembangannya rencana pengembangan kawasan Babakan Siliwangi ditangguhkan untuk sementara waktu sehingga masih ada waktu untuk melakukan pembahasan secara lebih mendalam, baik di kalangan dewan sendiri maupun dengan pihak luar.

Pengembangan kawasan Babakan Siliwangi melibatkan berbagai stakeholders yang berbeda. Pada dasarnya pihak-pihak yang berkepentingan dengan kebijakan ini dapat diklasifikasikan menjadi empat pihak, yakni : 1. DPRD Kota Bandung sebagai aktor utama pengambil keputusan, 2. Pemerintah Kota Bandung yang berkepentingan untuk mempertahankan rencana pengembangan kawasan Babakan Siliwangi, dan terutama kepentingan ekonomi untuk meningkatkan PAD dari sektor perdagangan 3. PT.EGI (investor) yang berkepentingan untuk memenangkan tender pengelolaan kawasan Babakan Siliwangi, dan 4. kelompok-kelompok masyarakat yang menuntut agar kebijakan pengelolaan kawasan Babakan Siliwangi sebagai pusat perdagangan komersil dibatalkan. Selama ini Rumah Makan Babakan Siliwangi yang dikelola Pemerintah Kota tidak menghasilkan keuntungan bahkan sebaliknya memerlukan subsidi setiap tahunnya. Pengembangan kawasan Babakan Siliwangi ditujukan sebagaipusat perdagangan komersial yang bernuansa alam.

Target utama dari konsep ini adalah mengembangkan Babakan Siliwangi sebagai lahan yang luas untuk memajang produk-produk seni dan mode yang pada perkembangannya akan dilengkapi dengan pembangunan kawasan apartemen (kondominium) dan gelanggang kawula muda. Namun, pada prinsipnya, Pemerintah Kota Bandung tetap mempertahankan kelestarian alam di kawasan Babakan Siliwangi yang diperlukan sebagai nilai tambah untuk meningkatkan daya tarik kawasan tersebut. Kepentingan inilah yang kemudian mendorong Pemerintah Kota Bandung untuk mencari investor yang mampu memberi modal bagi realisasi gagasan yang diajukan Pemerintah Kota.

Pemerintah Kota memilih PT EGI sebagai mitra berdasarkan tawaran kontribusi yang sangat signifikan bagi PAD Kota Bandung sebesar Rp 2,5 milyar pada lima tahun pertama dan terus bertambah 10% pada lima tahun berikutnya dalam jangka waktu 25 tahun. PT EGI sebagai penanam modal jelas berkepentingan untuk memperoleh laba dari investasi ini. PT EGI, megemukakan perlunya dilakukan pengendalian atau penataan pohon-pohon di kawasan Babakan Siliwangi, yang dilakukan untuk menghasilkan lahan yang cukup luas dan lapang bagi pembangunan kompleks cottage. Luas lahan yang diperbolehkan dibangun (sebesar 7.375 m² dari luas keseluruhan sebesar 38.214 m²), besaran kontribusi yang disepakati, dan aturan main yang harus disepakati antara Pemerintah Kota dengan PT EGI. Selain ada rumah makan dan pusat kesenian, juga akan dibangun hunian untuk mahasiswa dan dosen yang bernama Graha Priangan. Bangunan ini berupa kondominium (apartemen) berlantai 24.

Permasalahan yang timbul kemudian muncul ketika Babakan siliwangi yang merupakan hutan kota dirasakan sebagai lahan terbuka hijau yang harus dipertahankan untuk usaha pelestarian lingkungan di kawasan Babakan Siliwangi. Berdasarkan poin-poin keputusan ini, tampak bahwa permasalahan subtantif berkenaan dengan isu ekologis belum mendapatkan ruang yang memadai dalam pembahasan.

baksil-11

Pengelolaan Babakan Siliwangi sebagai salah satu aset Pemerintah Kota dapat dipergunakan untuk menambah PAD, karena kawasan Babakan Siliwangi merupakan kawasan yang tidak terurus dan tidak dapat memberikan keuntungan yang maksimal secara ekonomi. Namun yang perlu dipandang penting adalah hal lain, karena persepsi dari sudut ekonomi ini tidak mempertimbangkan kegunaan Babakan Siliwangi sebagai ruang terbuka hijau yang penting bagi paru-paru kota.

PROFIL BABAKAN SILIWANGI

Babakan Siliwangi merupakan salah satu dari kawasan lindung ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Bandung. Lokasinya berbatasan dengan Jalan Siliwangi dan Jalan Taman Sari dengan luas kurang lebih 8 ha. Di dalam kawasan ini termasuk Sasana Budaya Ganesa (Sabuga), Sarana Olahraga (Sorga), dan lahan terbuka yang masih ditumbuhi pepohonan rindang. Luas ruang terbuka hijaunya sendiri kurang lebih 7 ha (71.000 m2).

Babakan Siliwangi dahulun dulu terkenal dengan nama hutan Lebak Gede. Pembangunan demi pembangunan mengiringi kisah kawasan tersebut. Gambar Babakan Siliwangi Dalam buku ‘Album Bandung Tempo Dulu’, perkembangan Babakan Siliwangi Dapat diterangkan perkembangan Babakan Siliwangi sbb:

  1. 1930-an di Lebak Gede tersebut terdapat hamparan sawah yang sangat luas.
  2. 1940-an di sebelah barat Baksil (sekarang Sabuga) bermunculan rumah penduduk.
  3. 1940-an banyak rumah-rumah penduduk dibangun di sebelah barat Baksil.
  4. 1970-an, muncul komplek seni dan budaya serta rumah makan di Baksil.
  5. 1990-an, pembangunan Sabuga dan Sarana Olah Raga Ganesha (Sorga)
  6. 1990-an, kawasan Baksil dibangun menjadi kawasan wisata alam yang terbuka untuk umum dan tidak eksklusif untuk ITB.

Pada saat ini, ruang terbuka di Kota Bandung sangat kurang dan kualitas udara saat ini yang buruk. Maka sangat diperlukan lahan hijau sebagai paru-paru kota. Kondisi saat ini Babakan Siliwangi adalah satu-satunya hamparan hijau yang masih tersisa di Kota Bandunga, hal ini dapat dibuktikan dengan citra udara yang diperoleh dari Citra Google Earth tahun 2008 sbb:

baksil-1

Gambar Perbandingan Kawasan Hijau Babakan Siliwangi dengan Wilayah Kota Bandung

Babakan Siliwangi seperti terlihat dalam foto tampak atas hasil pemotretan Google Earth, tampak bahwa Kawasan Babakan Siliwangi adalah satu-satunya kawasan hamaparan hijau yang tersisa di Kota Bandung. Kawasan Babakan Siliwangi adalah ruang terbuka hijau (RTH) yang di atasnya sebenarnya tidak boleh didirikan bangunan apalagi bangunan tinggi seperti hotel atau apartemen. Persepsi ini berangkat dari kepentingan ekologis yang tidak memandang kawasan Babakan Siliwangi sebagai kawasan terlantar tapi lebih sebagai hutan kota sehingga wajar jika terdapat banyak hamparan pepohonan.

Pada saat ini Dinas Tata Kota dan Cipta Karya Kota Bandung mengaku telah mengeluarkan IMB untuk pembangunan rumah makan di kawasan Baksil bagi pengembang PT Esa Gemilang Indah (Istana Group). Kontroversi pengembangan kawasan ini berawal pada saat adanya rencana Baksil yang merupakan ruang terbuka hijau alamiah akan dibangun komplek cottage pada 2001, yang di dalamnya tak hanya dibangun rumah makan dan pusat kesenian, juga akan dibangun apartemen.diatas lahan 20 persen dari luas Babakan Siliwang yang luasnya mencapai 3,4 ha itu, diyakini hanya dijadikan sebagai pintu masuk untuk membangun yag lainnya, sebagaimana yang telah direncanakan, seperti, Apartermen, lahan parkir, dan perumahan dosen ITB.

Kondisi Babakan Siliwangi saat ini kurang tertata dan terawat. Tidak ada penerangan sehingga tidak dapat dimanfaatkan pada malam hari. Merupakan ruang publik yang merupakan tempat bersosialisasi dan berinteraksi. Sering dimanfaatkan para seniman untuk berkegiatan dan berbudaya. Sistem persampahan kawasan Babakan Siliwangi termasuk TPS Tamansari, PAB domestic tidak masuk ke riool kota, Baku mutu daerah itu telah melebihi batas (HMTL) dan Bukan merupakan resapan air tetapi aliran air dan tangkapan air hujan serta berfungsi melindungi kawasan di bawahnya.

TINJAUAN HUKUM

Babakan Siliwangi termasuk WP Cibeunying. Kecamatan Coblong. Dan merupakan kawasan lindung dengan toleransi pembangunan 2%. Itupun untuk prasarana vital seperti jalan. RTRW Bandung (sebagai arahan pembangunan tata ruang kota) Dalam RUTRK Bandung salah satu permasalahan yang disebutkan adalah Masalah kawasan Bandung Utara yang mengalami perubahan fungsi, semula berfungsi sebagai kawasan lindung menjadi kawasan komersial.

Berdasarkan RTRW, ketentuan pemanfaatan tanah dalam kawasan lindung adalah;

  1. Di dalam kawasan lindung dilarang melakukan kegiatan budidaya apapun, kecuali pembangunan prasarana vital dengan luas areal maksimum 2% dari luas kawasan lindung.
  2. Di dalam kawasan non-hutan yang berfungsi lindung diperbolehkan kegiatan budidaya secara terbatas dengan tetap memelihara fungsi lindung kawasan yang bersangkutan serta wajib melaksanakan upaya perlindungan terhadap lingkungan hidup.
  3. Kegiatan budidaya yang sudah ada di kawasan lindung dan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup, serta dapat mengganggu fungsi lindung harus dikembalikan ke fungsi lindung secara bertahap sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Arah pengembangan kawasan lindung ;

  1. Melestarikan dan melindungi kawasan lindung yang ditetapkan dari alih fungsi
  2. Mengembangkan kawasan yang potensial sebagai jalur hijau pengaman prasarana dalam bentuk garis sempadan sungai, jalur tegangan tinggi, dan jalur rel kereta api
  3. Intensifikasi dan ekstensifikasi ruang terbuka hijau.
  4. Mempertahankan fungsi dan menata RTH yang ada, dan mengendalikan alih fungsi
  5. Mengembalikan fungsi RTH yang telah beralih fungsi.

Arahan pengembangan kawasan pelestarian alam adalah menyelamatkan keutuhan potensi keanekaragaman hayati, baik potensi fisik wilayahnya (habitat), potensi sumberdaya kehidupan serta keanekaragaman sumber genetikanya.

Rencana tata ruang per blok tanah, disebutkan Merupakan kawasan sosial budaya.masih menjadi perwal, belum perda. RDTR(rencana detail tata ruang) Untuk pengembangan kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya dilakukan dengan mempertahankan dan merevitalisasi kawasan-kawasan resapan air atau kawasan yang berfungsi hidrologis untuk menjamin ketersediaan sumber daya air dan kesuburan tanah serta melindungi kawasan dari bahaya longsor dan erosi. UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, sebuah kota harus memiliki Ruang Terbuka Hijau (RTH) seluas 30% dari total luas kota. Sedangkan saat ini Bandung hanya memiliki RTH sekitar 7,86% dari total luas wilayah(dinas pertamanan dan permakaman Kota Bandung 2007).

Dengan kondisi kekurangan tersebut keberadaan RTH ini masih diganggu dengan adanya konflik-konflik kepentingan dalam pemanfaatan yang kurang menjamin terjaga fungsinya. Aturan tentang Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dalam Perda Nomor 14 Tahun 2008 tentang Bangunan di Wilayah Kota Bandung hanya memuat prosedur administratif permohonan izin bangunan dan biaya retribusi. Tetapi, tidak dicantumkan secara jelas wilayah yang disetujui dan tidak disetujui untuk dibangun sehingga masyarakat pun tidak tahu lokasi mana yang boleh dan tidak boleh dibangun serta tidak adanya tindak lanjut pada perubahan dan penambahan ketika proses pembangunan, sehingga banyak pembangunan yang tidak sesuai aturan namun mendapat ijin membangun.

Keppres Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung menetapkan bahwa kawasan lindung hanya boleh dibangun prasarana dengan kapasitas dua persen dari luas lahan UU Pasal 39 yang menyebutkan pemerintah daerah tk II wajib menjaga kawasan lindung. Jika tidak pihak yang yang melegalkan wajib mendapat hukuman. Dalam ilmu Arsitektur Kota terdapat 2 faktor pertimbangan dalam merancang suatu tempat dalam konteks urban ; Pemanfaatan yang tidak sesuai aturan dan tidak mempunyai ijin dapat ditertibkan dengan: pembongkaran bangunan, perlengkapan perijinan dengan dikenai denda dan biaya dampak pembangunan, denda atau kurungan. Dengan jumlah penduduk yang hampir mencapai 2,7 juta jiwa bahkan jika siang hari diperkirakan mencapai 3 juta orang, Bandung memerlukan ruang terbuka hijau yang lebih luas lagi.

Apalagi kalau mengacu kepada Undang-Undang Republik Indonesia No. 26 Tahun 2007, mewajibkan setiap kota harus memiliki ruang terbuka hijau seluas 30% dari luas wilayah kotanya. Dalam Perda No. 3 tahun 2006 tentang penataan ruang dan wilayah Kota Bandung, mencantumkan RTH dikota Bandung yang harus dicapai 10 %. Saat ini, Kota Bandung memiliki tidak lebih dari 6 persen saja. Itu pun tidak memliki kualifikasi sebagai RTH. Apalagi sebagai hutan Kota. Jelas, bahwa kegiatan rumah makan di Babakan Siliwangi dapat dikatakan melanggar terhadap undang-udang.

TINJAUAN EKOLOGI

Kualitas udara Kota Bandung semakin penurunan. Kota Bandung, makin hari makin mendung, karenan tetutup asap dari polusi kendaraan dan lain sebagainya. Berbagai hasil penelitian yang dilakukan di perguruan tinggi seperti ITB dan UNPAD, menunjukan bahwa kualitas udara di Bandung semakin menunjukan penurunan. Kualitas lingkungan di Kota Bandung saat ini sudah sampai pada tingkat yang mengkhwatirkan. Salah satu parameternya adalah makin tingginya pencemaran serta makin sedikitnya ruang terbuka hijau sebagai paru-paru kota untuk membersihkan udara. Akibat buruknya kondisi lingkungan seperti sekarang ini, diperkirakan akan menimbulkan kesehatan penduduk dalam 5 sampai dengan 10 tahun mendatang.

Dampak yang ditimbulkan adalah menurunnya kualitas sumberdaya manusia, serta menurunnya derajat kesehatan warga masyarakat Kota Bandung. Menurut BPLH Kota Bandung (2006), tambahnya setiap tahunnya permukaan air tanah mengalami penurunan 0,42 meter. Sumber data lain dari Badan Pengendali Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bandung Tahun 1999 menunjukan daerah Cibeunying Babakan Siliwangi, muka air tanah berada pada kedudukan 14,35 meter dari 22,99 meter. Sementara pada tahun 1960-an bila hujan 40% air melimpas dan 60% meresap ke dalam tanah sedangkan Pada tahun 2008, dengan semakin banyaknya bangunan, bila hujan 95% air melimpas (menjadi banjir), 5% meresap ke dalam tanah (sumber DPLKTS), sementara Selama kurun waktu 1994-2001 terjadi perubahan besar-besaran terhadap Kawasan Bandung Utara (KBU). Hutan sekunder yang semula luasnya 39.349,3 hektar menjadi tinggal 5.541,9 hektar pada tahun 2001.

Bandung saat ini tengah mengalami bencana ekologis, salah satunya kelangkaan air bersih yang disebabkan makin berkurangnya hutan kota (Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda,2006) Kalkulasi Manfaat Kawasan Babakan Siliwangi dari sudut pandang keuntungan ekologi (hima planologi ITB,2008)

Manfaat pohon ;

  1. Menghasilkan oksigen 1,2 kg/pohon/hari
  2. Menyerap panas 8x lebih banyak
  3. Menguapkan kembali 75% Air hujan
  4. Mengikat air pori tanah dengan mekanisme kapilaritas dan tegangan.

Bagaimana pohon mendaur ulang air Berdasarkan Penelitian yang diselenggarakan oleh Ikatan Arsitek Lansekap Indonesia bahwa untuk area 1 ha yang dipenuhi berbagai pohon dengan diameter >10 m, perdu, semak, dan rumput akan menghasilkan ruang kanopi seluas 5 ha dan dalam 12 jam dapat menarik 900 kg CO2 dari udara serta melepaskan 600 kg O2 . Dengan demikian, dalam 24 jam dapat melepaskan 1200 kg O2 ke udara perkotaan atau setara dengan 1560 liter O2 Untuk lahan hijau Kawasan Babakan Sisliwangi yang seluas 3,5 ha, dapat menghasilkan 4200 kg O2 atau setara 5460 liter O2 dalam 24 jam ke udara perkotaan Bandung. Maka dalam hal ini, Kawasan Babakan Siliwangi memiliki potensi sbb: A. Potensi Iklim Wilayah Babakan Siliwangi seperti halnya di Kota Bandung, dipengaruhi oleh iklim pegunungan yang lembab dan sejuk.

Temperatur rata-rata sekitar 23,6o C dengan curah hujan rata-rata 156,4 mm dan jumlah hari hujan rata-rata15 hari per bulannya. Merupakan kawasan penjaga iklim mikro. B. Potensi hidrologi Sumber air, baik itu berupa sungai dan mata air. sebgai kawasan aliran air dan tangkapan air hujan, C. Potensi Topografi Wilayah Babakan Siliwangi dapat digambarkan sebagai daerah yang memiliki karakter topografi unik dengan bentuk tapal kuda yang menjorok. Gambar Bentuk Tapal Kuda Babakan Siliwangi D. Potensi Sosial dan budaya Wilayah Babakan Siliwangi merupakan ruang terbuka publik yang merupakan ruang interaksi dan wahana untuk kegiatan berbudaya dan berkesenian.

TINJAUAN EKONOMI

Pengelolaan Babakan Siliwangi sebagai salah satu aset Pemerintah Kota dapat dipergunakan untuk menambah PAD, karena kawasan Babakan Siliwangi merupakan kawasan yang tidak terurus dan tidak dapat memberikan keuntungan yang maksimal secara ekonomi. Namun yang perlu dipandang penting adalah hal lain, karena persepsi dari sudut ekonomi ini tidak mempertimbangkan kegunaan Babakan Siliwangi sebagai ruang terbuka hijau yang penting bagi paru-paru kota.

Dampak jika terjadi pembangunan di Babakan Siliwangi;

  1. Penurunan muka air tanah Kondisi ini timbul akibat berkurangnya wilayah tangkapan air di Bandung Utara, hal ini akan menurunkan muka air tanah di wilayah bawahannya, yaitu Kota Bandung sehingga penduduk Bandung akan mengalami masalah kekurangan air.
  2. Pendangkalan Sungai Kondisi ini timbul dari adanya tingkat erosi yang tinggi sebagai akibat dari tidak berfungsinya kawasan lindung di Wilayah Bandung Utara Dampak lain yang dapat terjadi adalah kelangkaan air bak, erosi, sedimentasi dan banjir terutama pada bagian Bandung selatan
  3. Permasalahan Transportasi Kawasan ini berada diantara 2 node komersil Bandung utara yaitu jalan Ir. H Juanda dan Cihampelas. Munculnya kegiatan-kegiatan komersial memperburuk kondisi transportasi di Kota Bandung. keberadaan kegiatan komersial akan mengakibatkan terkuncinya jalur-jalur transportasi Kota Bandung.
  4. Permasalahan Sosial. Kawasan Babakan Siliwangi tidak akan dapat dimanfaatkan semua kalangan. Dengan adanya pembangunan dan privatisasi maka akan mengurangi sarana untuk berinteraksi dan bersosialisasi masyarakat dari semua kalangan. Lokasinya berdekatan dengan kampus dan dikelilingi oleh perumahan penduduk yang berasal dari kalangan menengah ke bawah(kelurahan Lebak Siliwangi).