Pemkot Cimahi Libatkan Unpad Kembangkan Cipageran Sebagai Sentra Hasil Olahan Susu Sapi

(Unpad.ac.id, 30/12/2014] Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) dan Fakultas Peternakan (Fapet) Unpad menjadi bagian dalam pemberdayaan masyarakat di Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara. Pembinaan yang dilakukan terkait pada pengembangan sentra hasil olahan susu sapi yang menjadi komoditas masyarakat di Kelurahan Cipageran.

Salah seorang warga Kelurahan Cipageran sedang menunjukkan produk susu yoghurt hasil binaan dari tim FTIP dan Fapet Unpad pada peresemian Sentra Hasil Olahan Susu Sapi Cipageran, Selasa (30/12) di Kelurahan Cipageran, Cimahi. (Foto: Arief Maulana)*
Salah seorang warga Kelurahan Cipageran sedang menunjukkan produk susu yoghurt hasil binaan dari tim FTIP dan Fapet Unpad pada peresemian Sentra Hasil Olahan Susu Sapi Cipageran, Selasa (30/12) di Kelurahan Cipageran, Cimahi. (Foto: Arief Maulana)*

2014-12-24 18.24.02

2014-12-24 15.39.12

2014-12-24 15.38.46

2014-12-23 19.53.11

Selama 3 bulan ke belakang, FTIP dan Fapet giat melakukan penyuluhan kepada masyarakat atas permintaan dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Cimahi. Hal ini didasarkan atas upaya Pemerintah Kota Cimahi untuk mengembangkan Kelurahan Cipageran sebagai sentra hasil olahan susu sapi.

Upaya ini berbuah hasil yang baik. Bersama dengan stakeholder lainnya, secara resmi Kelurahan Cipageran menjadi sentra hasil olahan susu sapi. Peresmian ini dilakukukan Asisten Administrasi Bidang Pembangunan Kota Cimahi, Tata Wikanta, Selasa (30/12) di Sentra Hasil Olahan Susu Sapi Cipageran, Jalan Karya Bakti, Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara.

Dalam persemian tersebut, hadir 2 wakil dari Unpad, yakni Dr. Dwi Purnomo, S.TP., M.T., Dosen FTIP Unpad dan Dr. Ir. Unang Yunasaf, Wakil Dekan II Fapet Unpad. Peresmian ini juga dihadiri oleh Ketua DPRD Kota Cimahi, Ahmad Gunawan, serta pimpinan di Pemerintah Kota Cimahi.

Menurut Dr. Unang, Unpad memiliki peran dalam mengembangkan strategi pengolahan susu agar dapat dipasarkan dengan baik. Dari Fapet Unpad sendiri, ada 3 hal yang yang dilakukan pembinaan kepada masyarakat.

“Kita lakukan penyuluhan mulai dari strategi perencanaan pengembangan susu, pengembangan kualitas manajemen peternak susu, hingga pelatihan keterampilan pengolahan susu,” ujar Dr. Unang ditemui di sela-sela acara.

Penyuluhan yang dilakukan oleh tim yang terdiri dari dosen dan tenaga laboran Fapet ini memberikan pelatihan pengolahan susu menjadi sentra komoditas yang siap dipasarkan, seperti susu yoghurt, kerupuk susu, serta produk olahan dari susu lainnya. Pelatihan ini pun dibantu oleh tim dari FTIP Unpad.

Sementara dari FTIP Unpad, Dr. Dwi menjelaskan, timnya menyasar pada pengolahan susu menjadi yoghurt. Ia pun merangkul para mahasiswa teknopreneur yang tergabung dalam Forum “The Local Enablers”.

“Kita melalui mahasiswa setiap hari memberikan penyuluhan mengenai bagaimana mengolah susu menjadi yoghurt yang siap pasar, mulai dari hulu hingga proses pemasarannya,” ujar Dr. Dwi.

Diakuinya, produksi susu di Cipageran memiliki kualitas yang baik. Namun, masyarakat belum memiliki kemampuan pengolahan dan manajerial yang baik sehingga produksi tersebut belum berkembang dengan baik.

Begitu para tim dari Unpad memberikan penyuluhan, antusias masyarakat yang terdiri dari kaum ibu-ibu tersebut sangat tinggi. Keinginan mereka untuk meningkatkan kesejahteraan melalui produksi susu sapi sangat tinggi. Lebih dari 50 ibu-ibu mengikuti penyuluhan setiap harinya.

Dari hasil pembinaan tersebut, para ibu pun berhasil menciptakan produk yoghurt asli Cipageran, yakni Yoghurt “Beda”. Produk ini menjadi salah satu produk unggulan yang dipamerkan dalam acara persemian tersebut.

Di sisi lain, ada kebanggaan tersendiri bagi para tim Unpad, Rizal Arafat, misalnya. Mahasiswa FTIP Unpad ini bangga dapat memberikan penyuluhan hinggamasyarakat dapat menghasilkan produk sendiri.

“Kita senang lihat ibu-ibunya sekarang menjadi semangat bekerja dan menghasilkan uang. Kita bangga bisa memberikan kebahagiaan bagi orang lain,” ujar Rizal yang juga pelaku wirausaha yoghurt “Your Good”.

Diharapkan, kerja sama pembinaan ini akan tetap berlanjut. Selain memberikan penyuluhan, kelurahan Cipageran ini juga akan dijadikan sarana penelitian dan Praktik Kerja Lapangan bagi mahasiswa FTIP dan Fapet Unpad.*

Laporan oleh Arief Maulana / eh

Kembangkan Sociopreneurship, Dosen Ini Dorong Mahasiswa dan Masyarakat Berwirausaha

[Unpad.ac.id, 21/11/2014] Kegiatan sosial sudah saatnya tidak lagi diindetikkan dengan kegiatan belas kasihan dan berbagai kegiatan yang tidak memberdayakan. Aktivitas yang dapat dilakukan misalnya melalui sociopreneurship, yakni kegiatan sosial melalui jiwa kewirausahaan.

Usaha Entog Jenggot yang merupakan usaha sociopreneurship dengan memberdayakan peternak unggas di sekitar Unpad Kampus Jatinangor. (Foto oleh: Dadan T.)*
Yogi Firmansyah, mahasiswa FTIP Unpad yang juga salah satu pemilik Entog Jenggot. Usaha sociopreneurship dilakukan dengan memberdayakan peternak unggas di sekitar Unpad Kampus Jatinangor. (Foto oleh: Dadan T.)*
“Sociopreneurship itu adalah sebuah bentuk kegiatan sosial tapi jiwanya entrepreneur. Biasanya social entrepreneurhsip itu memiliki visi untuk mandiri bagi pengembangan kegiatan sosialnya,” jelas dosen Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Unpad sekaligus pemberdaya dan penggiat Sociopreneurship, Dr. Dwi Purnomo saat ditemui di ruang UPT Humas Unpad, Kamis (20/11).

humas-unpad-_2014_11_20_00057695

Pendekatan sociopreneurship dirancang untuk memiliki rantai manfaat yang panjang, sehingga memberikan nilai pada objek sosial yang ditujunya, serta diarahkan untuk menyebar nilai guna dan nilai tambah yang besar bagi masyarakat. Saat ini, setidaknya sudah ada sembilan mitra kolaborasi (unit usaha) yang berada dibawah binaan Dr. Dwi. Dalam hal ini, Dr. Dwi bertindak sebagai pemberdaya untuk memberikan input teknologi dan manajerial, serta pendampingan intensif dalam kurun waktu tertentu hingga mitra kolaborasi yang dibina berhasil dinyatakan mandiri dan turut pula bertindak sebagai pemberdaya bagi mitra kolaborasi lainnya.

“Ketika dinyatakan mandiri, pemberdaya itu juga berkewajiban untuk mendampingi proses replikasi lanjutan,” jelas Dr. Dwi. Dengan kata lain, setiap unit atau mitra kolaborasi yang dibentuk akan membentuk ‘anak unit’ yang kemudian diberdayakan hingga mandiri, dan begitu seterusnya.

Dr. Dwi Purnomo, STP., MT, dosen FTIP Unpad (Foto: Dadan T.)*
Dr. Dwi Purnomo, STP., MT, dosen FTIP Unpad (Foto: Dadan T.)*
Beberapa contoh kegiatan sociopreneurship di lingkungan Unpad yang telah berjalan yaitu FruitsUp (pemberdayaan petani mangga), Entog Jenggot (pemberdayaan peternak unggas dan masyarakat sekitar Kampus), Laperbanget.com (pemberdayaan UMKM kampus), YourGood (pemberdayaan peternak sapi), Frutavera (pemberdayaan bidang kesehatan), Velre (keselamatan lingkungan), JTN (kewirausahaan pemuda), Rumah Makan Surga Dunia (peduli pada kemiskinan), 1000 Sepatu (kepedulian sosial dan usaha kecil), Ar Rahmah (perternakan) dan banyak lagi beragam komunitas lainnya.

Lalu, mengapa harus sociopreneurship? Dr. Dwi berpendapat, “Karena harus berdampak banyak bagi kemajuan masyarakat. Jadi kalau kita ingin punya usaha, yang maju tuh bukan hanya kita. Sebagai akademisi punya tanggung hawab lebih untuk mendorong masyarakat lebih luas.”

Selain itu ia juga berpendapat bahwa kewirausahaan saat ini telah terbukti dapat berperan dalam mengakomodir berbagai kepentingan. Kewirausahaan dapat ditampilkan sebagai poros kolaborasi atau benang merah setiap kegiatan yang dilakukan dalam sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, termasuk di dalamnya kegiatan sosial.

Dengan sociopreneurship, Dr. Dwi melihat para mahasiswa yang dibinanya ternyata bisa menjadi lokomotif pemberdayaan untuk masyarakat lebih luas. “Contohnya dari Fruits Up yang kita kembangkan, ternyata masyarakat petani bisa terdorong untuk mengolah mangga menjadi bahan baku mentah, menjadi puree yang memiliki nilai tambah,” ungkapnya.

Contoh lain adalah Entog Jenggot, dimana selain turut menginspirasi mahasiswa lainnya untuk memiliki usaha, juga turut memberdayakan masyarakat Jatinangor untuk memiliki peternakan entog. Rumah makan yang berlokasi di Jatinangor ini juga turut memperkenalkan aneka kuliner khas Indramayu kepada masyarakat, khususnya Jatinangor. Bukan hanya menyajikan makanan untuk santap di tempat, Entog Jenggot juga menyediakan olahan makanan dalam bentuk kemasan yang awet dalam waktu cukup lama.

Dr. Dwi mengungkapkan, salah satu hal yang menjadi keunggulan Sociopreneurship di Unpad adalah adanya pemanfaatan teknologi sehingga dapat menghasilkan produk bernilai tambah bahkan memiliki nilai jual tinggi. Dengan demikian, para pelaku usaha dapat “berlari kencang” tanpa harus menunggu suntikan dana bantuan atau meminta-minta dari donatur. Pemanfaatan teknologi yang dimaksud yaitu dari hasil penelitian mahasiswa dan dosen di Unpad, sebagai bentuk diseminasi hasil penelitian civitas akademika Unpad.

Masih merupakan bagian dari sociopreneurship berbasis teknologi, Dr. Dwi pun membuat The Fruters Model: Model Pemberdayaan Berbasis Technology Preneurship. Melalui modelnya ini, ia berhasil menjadi salah satu pemenang kategori “Prakarsa” pada Anugerah Inovasi dan Prakarsa Jawa Barat 2014.

Kedepannya, Dr. Dwi berharap sociopreneurship dapat berkembang lebih lanjut dan memiliki anak/kaki mitra kolaborasi jauh lebih banyak, sehingga akan tercipta banyak pemberdaya yang tetap berbasis pada kemandirian pengembangan bisnis dan komersialisme.

“Saya ajak teman-teman ini tidak hanya semata-mata komersil, tetapi juga harus menimbulkan banyak social preneurship, yang artinya mampu menjadi lokomotif bagi kemajuan ekonomi dan budaya bagi masyarakat sekitar kita,” tutupnya.*

Laporan oleh: Artanti Hendriyana / eh

Rombongan Kemenpora RI Kunjungi Pemenang Wirausaha Muda Pemula Berprestasi Nasional di Jatinangor

SURGA DUNIA

[Unpad.ac.id, 15/11/2014] Asisten Deputi Kewirausahaan Pemuda Kemenpora RI, Drs. Ponijan, M.Pd., beserta perwakilan pejabat Kemenpora di setiap provinsi mengunjungi Rumah Makan “Surga Dunia” yang dikelola oleh Nur Rachman, mahasiswa prodi Kimia FMIPA Unpad, Jumat (14/11) di Jatinangor.

Asisten Deputi Kewirausahaan Pemuda Kemenpora RI, Drs Ponijan MPd, (berdiri kiri) didampingi owner RM, Surga Dunia Nur Rachman saat memberikan sambutan pada kunjungan ke RM. Surga Dunia di Jatinangor, Jumat (14/11). (foto: Arief Maulana)
Asisten Deputi Kewirausahaan Pemuda Kemenpora RI, Drs Ponijan MPd, (berdiri kiri) didampingi owner RM, Surga Dunia Nur Rachman saat memberikan sambutan pada kunjungan ke RM. Surga Dunia di Jatinangor, Jumat (14/11). (foto: Arief Maulana)
“Hmm… Masakannya enak juga,” ujar Poniman saat mencicipi hidangan yang disajikan oleh Ray, panggilan akrab Nur Rachman. Sambil menyantap hidangan, Ray pun mengenalkan konsep Rumah Makan yang memiliki visi “Indonesia Anti Kelaparan” tersebut. Dalam bisnis yang dibangunnya, ada sebuah misi kemanusiaan, yakni membantu teman-teman mahasiswa maupun masyarakat yang kurang mampu untuk bisa makan dan membayar seikhlasnya.

Bukan hanya Ray, pada kunjungan tersebut juga hadir mentor dari usaha RM. Surga Dunia, Dr. Dwi Purnomo, dosen Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Unpad, serta teman-teman wirausahawan muda Unpad yang tergabung dalam “Forum Kreativitas Jatinangor”.

“Surga Dunia ini tentunya bukan menjadi apa-apa tanpa bantuan dari teman-teman dan mentor saya,” ujar Ray yang sudah mengelola rumah makan ini selama 2 tahun.

Kunjungan ini dilakukan sebagai monitoring lanjutan dari ajang Wirausaha Muda Pemula Berprestasi Nasional oleh Kemenpora RI, beberapa waktu lalu. Ray sendiri meraih Juara I Tingkat Nasional kategori Industri dan Boga di usianya yang masih muda, mengalahkan wirausahawan yang usianya jauh lebih tua.

Masih berada di bangunan yang minimalis, Ponijan berharap Ray dapat meningkatkan lagi usahanya. “Semoga ke depan juga tidak lagi ngontrak, dan punya bangunan sendiri. Ini tentunya dapat memotivasi wirausahawan muda lainnya,” ujar Ponijan.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Dwi juga memaparkan mengenai konsep Forum Kreatif Jatinangor. Selain RM Surga Dunia, dosen yang aktif sebagai enterpreneur ini juga mementori 6 wirausahawan muda lainnya yang tergabung ke dalam “The Local Enablers”.

“Enablers ini artinya pemberdaya. Berwiurausaha harus dilakukan tetapi majunya bareng-bareng, dari hulu sampai hilir,” ulas Dr. Dwi.

Kolaborasi adalah faktor terpenting dalam bisnis yang dibimbingnya. Menurut Dr. Dwi, satu usaha yang dikelola merupakan kerja sama dari beberapa fakultas di Unpad hingga stakeholder yang ada di masyarakat. Sehingga, wirausahawan binaannya mampu meningkatkan dan memberdayakan pelaku komoditas lokal secara bersama-sama.

“Kita juga mencoba untuk menciptakan pemimpin kreatif yang mengarah kepada kreatif leaders,” ujarnya.

Ponijan pun mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh Dr. Dwi dan komunitasnya. “Semoga ini menjadi inspirasi bagi bapak/ibu yang ada di daerah,” ujar Ponijan di hadapan para audiens.*

Laporan oleh: Arief Maulana / eh

Empat Dosen Unpad Raih Anugerah Inovasi dan Prakarsa Jabar 2014

BANDUNG, (PRLM).- Empat dosen Unpad berhasil menjadi pemenang Anugerah Inovasi dan Prakarsa Jawa Barat 2014. Mereka adalah Dr.Sc.Agr. Agung Karuniawan (Fakultas Pertanian), Ir. Mimin Muhaemin, M.Eng., Ph.D. (Fakultas Teknologi dan Industri Pertanian), Dr. Tomy Perdana, SP., MM (Fakultas Pertanian), dan Dr. Dwi Purnomo STP., MT (Fakultas Teknologi dan Industri Pertanian). Para pemenang diumumkan Rabu (13/8) kemarin di laman http://jabarprov.go.id/index.php/pages/id/1356.

Seperti diberitakan laman Unpad, dalam kompetisi tersebut, dari 10 orang yang diumumkan sebagai pemenang untuk kategori Inovasi, tiga dosen Unpad berhasil masuk. Ketiga dosen tersebut yaitu Dr. Agung Karuniawan, Mimin Muhaemin, Ph.D dan Dr. Tomy Perdana. Sementara itu, Dr. Dwi Purnomo menjadi salah satu pemenang dari lima orang pemenang kategori Prakarsa.

Pada kategori Inovasi, Dr. Agung Karuniawan menjadi pemenang kedua dengan tema “Pangan” melalui karyanya yang berjudul “Pengembangan Ubi Jalar Varietas Unggul Baru untuk Meningkatkan Daya Saing Industri Ubi Jalar Jawa Barat”.

Sementara itu, Mimin Muhaemin, Ph.D, menjadi pemenang ke-7 dengan tema “Infrastruktur” melalui karyanya yang berjudul “Sasak Apung Padjadjaran untuk Alat Transportasi Sarana Produksi dan Hasil Pertanian” dan Dr. Tomy Perdana menjadi pemenang ke sembilan dengan tema “Rekayasa Sosial” melalui karyanya yang berjudul “Rekayasa Inovasi Kelembagaan dan Teknologi Berbasis Pasar dalam Pengembangan Rantai Pasok Sayuran”.

Pada kategori “Prakarsa”, Dr. Dwi Purnomo menjadi pemenang ke empat dengan tema “Pangan” melalui karyanya yang berjudul “The Fruters Model: Model Pemberdayaan Berbasis Technologi Preneurship”.

Anugerah Inovasi dan Prakarsa Jawa Barat adalah penghargaan tahunan yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Penyelenggaraan kali ini adalah kali ke-4 dan mengangkat tema Lingkungan dan Kesejahteraan Masyarakat.

Penghargaan ini merupakan apresiasi, pengakuan kepada masyarakat, baik perorangan maupun kelompok yang telah menghasilkan karya inovatif, prakarsa, dan atau melakukan upaya luar biasa yang nyata serta menumbuhkan motivasi masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan Jawa Barat.

Para peserta Anugerah Inovasi dan Prakarsa Jawa Barat ini sebelumnya telah mengikuti tiga tahapan seleksi yaitu, seleksi formulir, pemaparan, dan wawancara serta tinjauan lapangan. Para peserta yang berhasil menjadi pemenang akan mendapat piagam, piala, dan uang tunai dari Gubernur Jawa Barat.

Pemberian penghargaan ini direncanakan akan disampaikan langsung oleh Gubernur Jawa Barat pada Upacara Peringatan Hari Jadi Provinsi Jawa Barat pada Selasa (19/8) mendatang. (Eriyanti)

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/node/292908

“Halal adalah Konsepsi Mutu Tertinggi”

[Unpad.ac.id, 25/02/2013] Label halal ternyata bukan saja menjadi pertanda makanan yang bisa dimakan dalam perspektif syariah. Dewasa ini, beberapa produsen makanan memberi label halal bukan hanya terkait dalam aspek agama, namun lebih pada aspek mutu produk. Sehingga, kini konsepsi halal telah mengacu pada jaminan mutu tertinggi yang dimiliki oleh suatu produk.

Bagi Dr. Dwi Purnomo, STP., MT., dosen Fakultas Teknologi Industri Pertanian Unpad, tren beberapa produk makanan di dunia saat ini sudah mengarah kepada agroindustri halal. Agroindustri halal tersebut mencakup konsepsi mutu dalam suatu produk yang dilihat berdasarkan proses dari hulu ke hilir.

“Halal adalah konsepsi mutu tertinggi dibandingkan dengan konsepsi mutu lainnya. Kalau kita beli produk yang halal, maka sudah dipastikan mutunya paling tinggi,” ujar Dr. Dwi saat ditemui pada Rabu (20/02) lalu.

Sertifikasi halal dalam suatu produk sangatlah penting. Hal tersebut terkait dengan jaminan mutu dalam suatu produk, juga sebagai jaminan kepercayaan bagi para konsumennya. Seiring dengan perkembangan zaman, konsumen akan cenderung memilih produk yang telah bersertifikasi halal berdasarkan keyakinan bahwa produk halal sudah pasti memiliki mutu yang baik.

“Kenyataannya, label halal di Indonesia masih sebatas voluntary, bukan mandatory. Dalam artian, produsen masih memberi label halal secara sukarela bukan karena kewajiban. Padahal, Indonesia adalah pangsa produk halal terbesar di dunia,” ungkap Dr. Dwi.

Sebagai pangsa produk halal terbesar, Indonesia sendiri ternyata masih belum mampu menjadi produsen produk halal terbesar. Saat ini Indonesia masih mengimpor produk-produk halal dari beberapa negara, seperti Malaysia dan Thailand. Kurangnya kekompakan antara stakeholder (pemerintah, produsen, dan masyarakat) dalam menciptakan visi yang sama mengenai produk halal, menjadi salah satu penyebab mengapa Indonesia belum mampu menjadi produsen produk halal terbesar.

“Malaysia sendiri sudah punya visi menjadi produsen halal terbaik di dunia. Di beberapa negara lain pun sudah concern terhadap produk halal. Mereka sudah punya pelabuhan halal sendiri, kawasan industri halal, bahkan dapur di beberapa restoran pun sudah menerapkan ruang dapur khusus untuk memasak produk halal,” jelasnya.

Oleh karena itu, agroindustri halal menjadi bidang kepakaran bagi Dr. Dwi. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh banyaknya hasil-hasil pertanian Indonesia yang memiliki nilai tambah apabila diolah menjadi produk yang bermutu. Oleh karena itu, perlu ada kesadaran khususnya bagi para produsen produk halal di Indonesia bahwa label halal bukan sekadar faktor syariah, tetapi sebagai faktor mutu tertinggi suatu produk.

“Ini yang belum disadari oleh produsen produk halal, bahwa sertifikasi produk halal sangat penting untuk meningkatkan mutu produk, sehingga ada jaminan kepercayaan mutu yang didapat oleh konsumen,” tuturnya.

Dr. Dwi sendiri memiliki visi menjadikan agroindustri halal sebagai lokomotif ekonomi Indonesia di masa yang akan datang. Terkait dengan hal tersebut, di bidang akademik pun perlu ada upaya untuk mengembangkan kelimuan yang berbasis halal science, salah satunya dengan mendirikan Halal Centre, sebagai pusat penelitian agroindustri halal.

“Di Unpad sendiri belum ada Halal Centre, namun ada rencana untuk bekolaborasi membentuk lembaga tersebut. Dengan mengembangkannya, kita turut punya andil mengembangkan agroindustri halal di Indonesia,” ungkapnya.

Melalui kepakarannya inilah, Dr. Dwi menjadi pembicara pada beberapa seminar hingga tingkat internasional. Bahkan, pada tanggal 18-19 Februari lalu Dr. Dwi mendapat prestasi Best Paper Award bidang pendidikan dalam Konferensi Nasional Inovasi dan Technopreneurship 2013  yang diselenggarakan oleh RAMP Institut Pertanian Bogor (IPB), Departemen Teknologi Industri Pertanian IPB, The Lemeison Foundation, dan Dirjen Dikti Kemendikbud RI.

Paper yang berjudul “Konsep Design Thinking bagi Pengembangan Rencana Program dan Pembelajaran Kreatif dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi” ini adalah hasil pemikiran Dr. Dwi mengenai pengembangan kurikulum berbasis kompetensi.

“Selama ini ada hambatan dalam penyusunan rencana program pembelajaran semester. Melalui paper tersebut, saya merumuskan metode pembelajaran dari taksonomi bloom, yang dikawinkan dengan sistem pembelajaran kreatif dengan metode design thinking. Ini akan lahirkan metode kompetensi pembelajaran yang unggul,” ujar dosen yang lahir di Bandung, 9 Mei 1980.

Sebagai seorang dosen dan peneliti, Dr. Dwi berharap apa yang dilakukannya dapat memberikan kontribusi yang luas bagi masyarakat. “Ini sesuai dengan filosofi pertanian, yakni bermanfaat bagi masyarakat banyak. Melalui pertanian, saya bisa menemukan banyak hal yang bisa berkontribusi banyak bagi keilmuan dan masyarakat,” pungkasnya.*

Laporan oleh Maulana / eh

 

sumber : http://www.unpad.ac.id/profil/dr-dwi-purnomo-stp-mt-halal-adalah-konsepsi-mutu-tertinggi/