Pewarna Alami dari Buah Manggis

manggis-1

Manggis yang dalam bahasa Latinnya dikenal dengan nama Garcinia mangostana merupakan tanaman buah berupa pohon yang berasal dari hutan tropis yang teduh di kawasan Asia Tenggara, mulai dari Thailand, Filipina, Malaysia, Vietnam, dan tentu saja Indonesia. Kemudian dari Asia Tenggara, tanaman ini menyebar ke Amerika Tengah dan daerah tropis lainnya seperti Sri Lanka, Malagasi, Karibia, Hawai, dan Australia Utara.

Di antara semua negara yang tanahnya ditumbuhi pohon manggis, Indonesia termasuk sebagai salah satu produsen terbesar di dunia setelah Thailand. Direktorat Jenderal Hortikultura Departemen Pertanian RI mencatat, produksi manggis selama tahun 2005 mencapai 62.711 ton dari areal seluas 10.000 hektare. Sementara di tahun yang sama, produksi manggis Thailand sudah mencapai 162.788 ton dari luas areal yang sama.

Saat ini, ekspor manggis Indonesia mencapai 34,4 persen dari keseluruhan total produksinya. Adapun beberapa negara yang menjadi tujuan ekspor buah manggis di antaranya Hong Kong, Cina, Saudi Arabia, Kuwait, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, Belanda, Perancis, Jerman, Italia, dan Spanyol.

Masing-masing negara tersebut menuntut tampilan manggis ekspor yang berbeda-beda. Jepang menginginkan buah manggis yang diekspor ke negara mereka telah dikupas setengahnya, agar tampilan dalam buahnya bisa terlihat.

Namun, yang lebih banyak ialah keinginan negara yang dikirimi buah manggis dalam bentuk utuh, lengkap dengan cangkangnya. Misalnya saja RRC, Taiwan, Singapura, dan Amerika Serikat yang permintaan terhadap buah manggisnya sangat tinggi untuk dikonsumsi sebagai buah segar sekaligus mengolahnya untuk kepentingan industri.

Dengan mengembangkan teknologi, mereka telah dapat memanfaatkan ekstrak cangkang buah manggis sebagai bahan baku kosmetik dan vitamin. Nilai ekonomis hasil olahan ini justru jauh lebih tinggi daripada nilai ekonomis buah segarnya. Hal ini yang menunjukkan pemanfaatan manggis Indonesia belumlah optimal.

Namun, upaya tersebut kini sudah mulai dirintis lewat sejumlah penelitian yang bertujuan meningkatkan nilai ekonomis manggis melalui pengolahan cangkangnya. Untuk mendukung langkah tersebut, Departemen Pertanian kini mulai mengarahkan ekspor manggis yang berbentuk buah kupas. Jadi, hanya buahnya yang diekspor, sedangkan cangkangnya diolah di dalam negeri.

Salah satu manfaat yang dapat dipetik dari cangkang manggis ialah ekstraknya yang dapat dijadikan bahan pewarna makanan. Manfaat tersebut terkuak setelah sejumlah peneliti dari Fakultas Teknologi Industri Pertanian Unpad melakukan penelitian.

Tim yang terdiri atas Ir. Tati Sukarti, M.S., Dr. Ir. Roni Kastaman, M.T., dan Dwi Purnomo, S. T. P., M. T., itu menyampaikan hasil penelitian mereka di depan peserta pelatihan “Roadmap dan Teknologi Pengembangan Agroindustri Buah Manggis dalam Upaya Akselerasi Ekspor ” di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jalan Dipati Ukur, Bandung, beberapa waktu lalu.

Dalam paparannya, tim yang diwakili oleh Ir. Tati Sukarti, M. S. menyebutkan, kulit buah manggis mengandung dua senyawa alkaloid. Kulit kayu dan kulit buah serta lateks keringnya mengandung sejumlah pigmen yang berasal dari dua metabolit, yaitu mangostin dan ß-mangostin. Jika semua kandungan yang terdapat pada buah manggis tersebut diekstraksi, maka akan didapati bahan pewarna alami berupa antosianin yang menghasilkan warna merah, ungu, dan biru.

Secara bertahap Tati menjelaskan proses pengekstrasian kulit buah manggis hingga didapati bahan pewarna makanan. Pertama-tama, dilakukan pemilihan terhadap kulit buah manggis yang akan diolah. Kulit-kulit buah manggis tersebut kemudian dicuci, di-blanching, lalu dihancurkan.

“Setelah itu, kulit manggis yang sudah dihancurkan dapat menjalani dua proses yang berbeda. Ada metode kering dan ada yang basah,” kata Tati. Melalui metode basah, kulit buah manggis yang sudah hancur selanjutnya diekstraksi untuk selanjutnya disaring hingga menghasilkan filtrat. Kemudian filtrat ini mengalami proses lanjutan hingga dihasilkan pigmen yang selanjutnya disaring, diuapkan, dikeringkan, dan akhirnya terbentuk pigmen berwarna merah.

Metode pengolahan dengan cara kering menuntut proses yang lebih panjang. Setelah hancur, kulit buah manggis kemudian masih harus dikeringkan dalam temperatur bersuhu 40°C. Setelah kering, kulit manggis tersebut lalu digiling, lalu diayak hingga menghasilkan tepung kulit buah manggis. Tepung tersebut selanjutnya ditambahkan etanol berkonsentrasi 95% hingga akhirnya menghasilkan filtrat setelah disaring. Filtrat ini yang kemudian diuapkan hingga akhirnya menghasilkan pigmen warna.

“Pada dasarnya hasil akhirnya sama saja. Kalaupun ada perbedaan pada jumlah rendemen yang dihasilkan, perbedaannya tipis saja,” kata Tati. Lebih lanjut ia menjelaskan, biaya yang dibutuhkan untuk mengekstraksi kulit buah manggis hingga dihasilkan pigmen warna ini tidaklah besar. Bahan baku yang dibutuhkan hanya berupa air dan pelarut yang sesuai.

Mengingat besarnya nilai ekonomis yang bisa didapatkan dengan mengolah kulit buah manggis lebih lanjut ini, dengan modal yang tidak terlalu besar, bisa dibilang usaha ini cukup prospektif. Meskipun masyarakat yang menggunakan bahan pewarna berbahan dasar kulit manggis ini belum banyak, karena sosialisasi yang masih minim, Tati mengatakan akan lebih memasyarakatkan lagi penggunaan jenis pewarna ini.

Ia meyakinkan bahan pewarna yang berbahan dasar kulit manggis ini memiliki keunggulan tidak beracun, seperti halnya yang biasa ditimbulkan bahan pewarna sintetis. Tidak akan pula ada efek samping ataupun akumulasi zat-zat yang tidak dapat terabsorbsi tubuh. Lebih jelasnya, ia meyakinkan, bahan pewarna jenis ini aman untuk dikonsumsi.

Supaya dapat diproduksi massal, Tati dan timnya kini tengah gencar menawarkan hasil penelitiannya ini ke sejumlah perusahaan. Selain itu, ia juga mengaku akan segera mematenkan hasil temuannya ini supaya tidak diklaim pihak lain. Seperti halnya manggis yang sempat diklaim buah asli Malaysia. (Riesty Yusnilaningsih)***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s