STRATEGI PEMBANGUNAN AGROINDUSTRI

Pertanian sebagai suatu kesatuan utuh terdiri dari 3 generasi yang saling terkait dimana ouput (hasil) suatu generasi menjadi masukan (input) generasi yang lainnya. Antar generasi memiliki interface berupa procurement (pembelian) dan marketing (pemasaran) (Jamaran,2004).

  1. Generasi I : bibit/benih
  2. Generasi II : hasil pertanian
  3. Generasi III : Barang olahan/Barang Industri

new-4

Gambar 1. Sistem Pertanian yang Utuh (Jamaran, 2004)

Dari ketiga generasi pertanian tersebut, generasi ke III dipandang sebagai mesin pertumbuhan sektor pertanian (agroindustry as engine of growth) karena mampu menghasilkan proses pemberian nilai tambah yang tinggi. Namun dalam keterkaitan antar generasi harus tercipta suatu kondisi dimana pertanian sebagai suatu sistem mampu melakukan proses mantaining terhadap keberlanjutannya, dengan demikian hubungan keterkaitan yang terjadi harus didasarkan kepada “win-win solution“. Selain itu, harus ada sikap untuk saling menghargai kesuksesan generasi sebelumnya. Suatu generasi harus mampu menghargai suatu hasil (output) generasi sebelumnya dengan harga yang setinggi mungkin dalam batas keuntungan ekonomi sehingga generasi sebelumnya memiliki spirit untuk selalu mengembangkan usahanya.

Dengan demikian, pertanian sebagai suatu sistem yang utuh memiliki  :

Aspek Positif :

  1. Keterkaitan antar generasi mendorong pertumbuhan sistem pertanian secara utuh
  2. Mampu memberikan multiplier effect secara ekonomi, sosial dan lingkungan
  3. Penyerapan tenaga kerja yang banyak
  4. Proses pemberian nilai tambah sumberdaya domestik sehingga memiliki keunggulan bersaing
  5. Mendorong tumbuhnya proses kreativitas dalam penciptaan inovasi pada setiap generasi
  6. Mendorong petumbuhan pembangunan pedesaan sebagai sentra produksi pertanian
  7. Mempermudah penelusuran pangkal masalah jika generasi tertentu terjadi penyimpangan kualitas, kuantitas maupun kontinuitas
  8. Menciptakan alternatif budaya yang  mendukung, diataranya menumbuhkan buidaya hemat/tidak boros dan saling mendukung

Aspek Negatif :

  1. Kemacetan yang diakibatkan permasalahan suatu generasi akan menghambat perkembangan generasi berikutnya, sehingga proses pemberian nilai tambah tidak terjadi secara optimal
  2. Kualitas dan tahapan sebelumnya akan mempengaruhi kualitas generasi sesudahnya
  3. Dibutuhkan biaya yang lebih banyak serta waktu yang cukup lama untuk mengkoordinasikan dan mensinergiskan antar generasi
  4. Dibutuhkan sumberdaya manusia yang berkualitas, sedangkan faktualnya sebagian besar pelaku usaha pertanian terutama petani mempunyai tingkat pendidikan yang rendah sehingga membutuhkan biaya dan waktu untuk merubah perilaku
  5. Dibutuhkan lingkungan bisnis kondusif yang diinisiasi dan dijamin pemerintah

Dwi Purnomo, Dosen dan Peneliti
Fakultas Teknologi Industri Pertanian UNPAD
dwighy@yahoo.com

4 thoughts on “STRATEGI PEMBANGUNAN AGROINDUSTRI

  1. akhirnya ketemu juga tulisan prof. irawady setelah beliau kemukakan dalam salah satu pertemuan di hotel di jakarta. Salam kenal Pak Dwi, saya sirod alumni TIN-Fateta-IPB, murid beliau juga. :-)

  2. Mohon ijin simak pak… saya lagi mempelajari bidang agroindustri.. Sekalian titip info pak.. Perusahaan saat ini saya bekerja, sangat membutuhkan lulusan pertanian yang menuju agroindustri.

    Berikut bidang yang akan kami tuju:…

    Dari Pengolahan sampah pasar kerjasama Pemprov Bogor hasil pupuknya dijadikan perkebunan dan penanaman tanaman minyak atsiri….

    Jika ada sahabat agromania yang tertarik dapat kirim email ke hitechagroindustri@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s