INDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG PENGEMBANGAN PRODUK

1078627_lasagne

Produk pangan  adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan dan minuman bagi konsumsi manusia termasuk bahan tambahan produk pangan, bahan baku produk pangan , dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan dari atau pembuatan makanan dan minuman.

Pengembangan  Konsumsi Produk pangan, adalah beranekaragam-nya jenis produk pangan  yang dikonsumsi penduduk mencakup produk pangan  sumber energi, protein dan zat gizi lainnya, dalam bentuk bahan mentah maupun produk pangan  olahan sehingga dapat memenuhi kebutuhan produk pangan  penduduk baik kuantitas maupun kualitas.

Secara konseptual pengembangan  produk pangan  dapat dilihat dari komponen-komponen sistem produk pangan, yaitu penganekaragaqman produksi, distribusi dan penyediaan produk pangan  serta konsumsi produk pangan .  Dalam hal konsumsi produk pangan, permasalahan yang dihadapi tidak hanya mencakup keseimbangan komposisi, namun juga mengenai terpenuhinya kecukupan gizi.  Selama ini produk pangan  yang tersedia baru mencukupi dari segi jumlah dan belum memenuhi keseimbangan yang sesuai dengan norma gizi.

Pengembangan produk baru akan menjadi sebuah terobosan  strategis untuk memecahkan situasi kebuntuan akibat arena  persaingan bisnis yang mulai jenuh. Produk baru dapat berbentuk produk baru, kategori yang baru, jalur perluasan, peningkatan produk, penempatan kembali, dan pengurangan harga akan menjadi strategi baru bagi perusahaan untuk menguasai pasar sasaran. Namun demikian, mengembangkan sebuah produk baru bukan suatu hal yang mudah. Fakta di pasar menunjukkan lebih banyak produk baru yang gagal dibandingkan yang sukses berkembang.

Kegagalan produk baru untuk bertahan dan berkembang di pasar seringkali disebabkan oleh hal-hal seperti : kesalahan riset pasar dalam memahami kebutuhan konsumen, terkesan produk penjiplakan karena gagal menemukan ide produk yang benar-benar hanya perbedaan yang nyata, ketidaktepatan timing peluncuran produk baru ke pasaran, produk baru tidak dikomunikasikan secara baik, dan kesalahan memperkirakan respon pesaing. Agar tidak mengalami kegagalan dalam meluncurkan suatu produk, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

Gambar 10  Fokus Perhatian

Pengembangan atau penciptaan produk baru adalah merupakan basis strategis yang menentukan arah bisnis organisasi yang kompetitif. Produk baru adalah konsep multidimensional yang harus mampu memberikan kepuasan kepada stakeholder belum dimiliki oleh produk terdahulu.

Gambar 11  Komponen Pembentuk Produk

Konsep tersebut harus mampu menawarkan nilai inovasi (innovativeness) dari derajat perbaikan yang inkrimental (extension product) pada produk terobosan baru (breakthrough product). pengembangan tersebut, sasaran bisnis, akan mempengaruhi keunggulan komparatif organisasi, nilai finansial, efektivitas R&D, markering, citra korporat, produksi dan lini operasinya serta sumber daya lain termasuk SDM, untuk itu beberapa faktor lain yang harus dicermati dalam menngembangkan produk baru adalah :

Gambar 12 Faktor-Faktor Pertimbangan Penciptaan Produk Baru

1. Tren Pasar

a. Mengurangi Spesifiaksi Untuk Memperoleh Manfaat yang Lebih (less for more’)

Hal ini berarti konsumen menginginkan produk dengan harga yang sama atau lebih murah tetapi dengan manfaat yang lebih banyak atau sama. Oleh sebab itu, produsen dituntut untuk semkin inovatif dalam mencari alternatif/substitusi bahan baku/kemasan agar produknya menjadi “cost leader” atau produk yang membutuhkan biaya produksi yang paling sedikit dibandingkan dengan produk lainnya yang sejenis sehingga mampu bersaing dalam penentuan harga jual yang paling murah.

Contoh :

  1. l  Penggunaan bubuk manis, butter milk powder atau laktosa sebagai pengganti susu bubuk.
  2. l  Penggunaan pati sebagai pengganti susu bubuk.
  3. l  Penggunaan sebagian lemak nabati sebagai lemak susu.
  4. l  Penggunaan piring timah yang lebih tipis untuk kaleng dengan mengubah bentuk untuk kekuatan yang sama.
  5. l  Penggunaan label yang lebih pendek.
  6. l  Penggunaan bahan kemasan yang lebih murah.
  7. l  Keju analog, cream analog, dan lain-lain

b. Kesadaran akan Kesehatan (Health Conscious)

Seiring dengan meningkatnya tingkat kesejahteraan masyrakat, kesadaran akan kesehatan pun semakin meningkat, apalagi dengan adanya isu penggunaan bahan pengawet dan pewarna yang tidak aman untuk dikonsumsi. Kini konsumen semakin peduli terhadap keamanan pangan, kesehatan, dan penampilan tubuhnya sehingga produsen dituntut untuk semakin meningkatkan keamanan bahan baku yang digunakan dan bermanfaat bagi kesehatan dan penampilan.

Contoh:

  1. l  Susu untuk pertumbuha dengan berbagai macam kandungan seperti probiotik, prebiotik, kolostrum, lactoferin, asam amino.
  2. l  Susu kental manis dengan prebiotik.
  3. l  Susu rendah lemak, tinggi kalsium, dan bahan bioaktif lainnya.
  4. l  Susu untuk membentuk tubuh atau kecantikan.
  5. l  Susu untuk  memperbaiki  mental performance.
  6. l  Susu kedelai, kombinasi susu sapi dan kedelai.

c. Kenyamanan dan Kepraktisan

Budaya serba praktis dan instan juga diinginkan konsumen dalam mengonsumsi produk pangan. Konsumen yang semakin aktif, dinamis dan sibuk menuntut produk-produk yang instan, praktis dan nyaman untuk dibawa kemana-mana.

Contoh:

  1. l  Susu cair dalam kemasan praktis (sebelumnya bentuk bubuk).
  2. l  Susu asam dalam kemasan kecil.
  3. l  Susu sereal instan, cereal bar.
  4. l  Krim langsung makan (Instant whipping cream).
  5. l  Pudding instan
  6. l  Bubuk yoghurt, tablet.

d. Kesenangan (Fun and pleasure)

Globalisasi juga menuntut  adanya pengalaman rasa (“taste experience”), yaitu konsumen semakin penasaran dan tertarik terhadap rasa-rasa baru dan jenis-jenis produk baru juga kemasan baru yang lebih menarik. Contoh:

  1. l  Minuman susu fermentasi dengan bermacam-macam rasa baru.
  2. l  Minuman coklat susu, kopi susu, cappuchino, mocchacino.
  3. l  Susu soda, susu kocok.
  4. l  Pelembut.
  5. l  Susu kedelai, susu kacang, dan lain-lain.

e. Indulgence dan Loyalitas

Sebagian konsumen yang tidak sensitif atau tidak mudah terpengaruh oleh kenaikan harga menginginkan produk-produk dengan kualitas premium yang rasanya enak dan kemasannya menarik, walaupun harganya mahal.

Contoh:

  1. l  Susu pasteurisasi dengan premium quality.
  2. l  Ice cream dengan premium quality.
  3. l  Chocolate milk drink.
  4. l  Yoghurt dengan rasa buah.

2. Pilihan Konsumen

Selain lebih memperhatikan kesehatan, konsumen masa kini juga sangat peduli terhadap isu-isu yang berhubungan dengan keamanan pangan. Oleh karena itu, produk-produk organik, alami, tanpa bahan pengawet, tanpa pemanis buatan, dan tanpa pewarna menjadi lebih menarik perhatian konsumen.  Hal-hal tersebut harus dikomunikasikan dengan benar. Hal ini menjadi sebuah tantangan bagi produsen untuk memperbaharui produknya yang sebelumnya menggunakan bahan tambahan makanan sintetis.

Contoh:

  1. l     Keju dari potasium sorbat menjadi nisin (alami, bahan pengawet dari susu, sehingga tidak perlu di klaim sebagai pengawet).
  2. l     Proses hot filling (mengganti kemasan dengan bahan yang lebih tahan panas) sehingga tidak perlu pengawet.
  3. l     Penggunaan gula alkohol (laktitol, maltitol, sorbitol) yang GRAS sebagai pengganti pemanis buatan lainnya.

3. Peluang Bisnis

Dampak dari lahirnya kekuatan pelaku usaha yang berorientasi pada pasar global telah dirasakan pelaku usaha secara keseluruhan, bahkan pelaku usaha yang hanya menjual dalam wilayah geografis kecilpun merasakan dampak kekuatan tersebut. Dari sisi pelaku usaha, perubahan yang terjadi dalam persaingan oleh sebagian pelaku usaha dianggap sebagai ancaman, namun perusahaan sejenis lainnya ada yang menerjemahkan sebagai suatu tantangan, sekaligus peluang besar bagi pengembangan usahanya. Ancaman ataupun peluang bisnis sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan memahami perubahan yang terjadi dan meresponnya dalam bentuk sikap dan tindakan ke depan melalui suatu perencanaan yang sistematis.

Gambar 13. Pertimbangan Faktor Lingkungan Terhadap Pengembangan Produk Pangan.

Di Indonesia,  peraturan tentang pangan fungsional yang telah mengijinkan produsen untuk mencantumkan “health claim” pada kemasannya. Hal ini memberi kesempatan produsen untuk membut pangan fungsional, contohnya yaitu:

  1. l  Kalsium dengan osteoporosis.
  2. l  Sodium dengan hipertensi.
  3. l  Potasium dengan hipertensi dan risiko stroke.
  4. l  Dietary fiber, buah-buahn, sayuran, biji-bijian dengan kanker.
  5. l  Lemak tidak jenuh dan kolesterol dengan penyakit jantung koroner.
  6. l  Folat dengan neural tube defect.
  7. l  Gula alkohol dengan caries gigi.
  8. l  Protein kedelai dengan kolesterol dan penyakit jantung koroner.
  9. l  Ekstrak teh hijau dengan risiko penyakit jantung.

4.  Kompetensi Bisnis

Dalam mengambangkan produk harus mempertimbangkan pula kemampuan  kompetensi yang dimiliki pada suatu produk dan turunannya. Tetapi dengan berkembangnya konsep bea produksi maka produsen bisa mengembangkan “product portfolio” tanpa harus selalu mengeluarkan investasi peralatan produksi terlebih dahulu. Investasi cukup dilakukan untuk merek saja.

Sebaiknya juga, produsen bisa meningkatkan efisiensi dengan menerima bea produksi dari pihak lain. Selain meningkatkan efisiensi, hal ini juga bisa meningkatkan keahlian dan menambah wawasan bagi sumber daya manusianya.

Contoh:

l     Produksi keju

l     Produksi bukan susu krim

l     Produksi invant formula

l     Produksi minuman susu fermentasi

5.  Efisiensi Bisnis

Dalam memenangkan persaingan untuk memenuhi permintaan pasar, dunia usaha dituntut meningkatkan efisiensi proses produksinya sekaligus meningkatkan efektivitas dalam mencapai tujuan-tujuannya. Industri yang tidak menerapkan pemikiran yang demikian akan tergilas oleh derasnya arus persaingan yang diterapkan para kompetitornya. Pemikiran tersebut telah menjadi ideologi bisnis bagi pelaku usaha, terutama yang ingin masuk dalam persaingan global.

Setiap inovasi produk hanya bisa dikomersialisasikan dengan pertimbangan efisiensi bisnis seperti kuantitas minimum, kapasitas pabrik, biaya produk, serta jalur distribusi yang tersedia. Oleh karena itu, dalam menjalankan aktivitasnya R&D dalam suatu perusahaan tidak bisa hanya menjalankan aktivitas riset tanpa mempertimbangkan kelayakan bisnis.

R&D harus terintegrasi dalam sistem organisasi perusahaan dan berkerja sama secara matriks dengan bagian operasional (pabrik) dan bagian komersial (marketing, finance). Pertimbangan efisiensi bisnis juga mengharuskan R&D untuk berpikir dan bertindak praktis.

6.  Visi dan Misi Perusahaan

Setiap aktivitas R&D harus dalam koridor visi dan misi perusahaan. Tujuannya adalah untuk membatasi ide-ide yang terlalu banyak sehingga menjadi tidak fokus. Selain itu, hal ini akan membantu efisiensi aktivitas pemasaran, yaitu strategi komunikasi menjadi lebih jelas dan konsisten.

7.  Proses Inovasi

Dari segi inovasi produk baru  perlu  memiliki keunggulan kompetitif dan memimpin dibidangnya, nilai innovative-ness product baru harus mampu menempatkan keunggulan bisnis daripada hanya sekedar adaptasi teknologi. Pikiran-piktran inovatif akan menghasilkan karya-karya inovatif dan krearif (jump ductive) guna mendukung kemampuan kompetitif bisnis (Gruber, W.H., 1931). Berbagai penyelesaian melalui kegiatan riset dilakukan; namun perlu batasan-batasan dan ciri-ciri riset serta ruang lingkup sejauh mana riset tersebut dilakukan.

Gambar 14 Diagram Proses Inovasi

Dengan memahami analisis situasi (perencanaan) R & D dan kegiatan riset untuk inovasi dan difusi berarti tidak hanya menempatkan pentingnya teknologi untuk inovasi, tetapi sekaligus menempatkan pentingnya manajemen teknologi baik dalam bentuk pengembangan material, proses, sistem produk, dan lain-lain.

8. Karakater Produk yang Diciptakan:

Desain produk

Salah satu faktor penting yang cukup menentukan adalah soal pengemasan atau pengelolaan bisnis itu sendiri. Mereka umumnya berhasil menekankan unsur keunikan produk, namun tetap menjaga produk tersebut tidak terkesan murahan. Terutama jika target pemasarannya adalah kalangan menengah ke atas.

Fitur-fitur baru (MenawarkanKeunikan)

Perkembangan produk makanan, memang berlangsung cepat.

Berbagai jenis produk baru terutama yang diproduksi oleh pabrikan, datang silih berganti. Selera konsumen pun berubah dan berkembang sangat cepat.

l     Manfaat-manfaat tambahan

Siapapun yang memiliki peluang untuk berhasil menggarap bisnis makanan tradisional. Sekali lagi, yang penting adalah memiliki kejelian dan kreativitas tinggi. Satu hal yang harus dioptimalkan betul adalah, membangkitkan kembali kenangan (atau rasa kangen) masyarakat terhadap makanan tradisional, yang dulu sering mereka nikmati. Inilah nilai lebih bisnis makanan tradisional dibanding produk makanan yang benar-benar baru.

9. Faktor Internal dan Eksternal lainnya

  • Faktor Eksternal

Persaingan yang semakin ketat, Mengelola pengembangan produk baru, di samping alasan-asalan strategis tersebut di atas, juga memerlukan prinsip-prinsip dasar meliputi fleksibilitas dukungan sumber daya material, interaksi terhadap pembahan-perubahan pemilik, integratif terhadap sikap yang bertentangan seperti paradigma produk baru, kemudian berlanjut dalam usaha menghasilkan produk-produk baru. Secara keseluruhan manajemen pengembangan produk baru harus mampu memobilisir fungsi kritik dalam menghadapi ketidakpastian dari perubahan cepat, baik lingkungan maupun pasar yang sangar komplek. Yang paling penting, bagaimana menekan ketidakpastian tersebut dengan usaha ramalan pengembangan produk baru (new product development forecasting) yang mampu menjangkau masa depan (kerja hari ini untuk 5-10 tahun mendatang). Setiap perusahaan berlomba-lomba untuk mengembangkan produk baru mereka.

Gambar 15 Lingkungan Eksternal

Faktor Internal

Visi dan misi perusahaan yang tidak jelas/focus

KSF (Key success factor) adalah faktor-faktor internal organisasi (sumber daya dan kompetensi) yang paling kritis atau paling penting yang mungkin digunakan oleh suatu organisasi untuk menangani peluang dan ancaman agar dapat bertahan dan memenangkan persaingan. KSF dibobot sesuai dengan pengaruhnya terhadap tujuan organisasi

l          Business definition yang tidak jelas/tidak ada

Keseimbangan sasaran-sasaran strategik :

Gambar 16 Keseimbangan Sasaran-sasaran Strategik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s