Malaysia Mengklaim Kuliner Indonesia

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=98043

Setelah Mengakui Seni Budaya
Malaysia Mengklaim Kuliner Indonesia

Konflik Indonesia dan Malaysia yang semakin run-cing dewasa ini atas klaim produk kebudayaan, terutama di bidang seni semakin mencuat. Hal ini tentunya sangat melukai hati seluruh bangsa Indonesia.

Klaim atas produk kebudayaan yang terlihat sekarang ini, layaknya dapat dikatakan sebagai fenomena gunung es, karena ternyata pada tatanan yang lebih luas terdapat produk kebudayaan Indonesia, yang akan jauh lebih mengejutkan luput dari perhatian masyarakat, yakni produk kuliner khas Indonesia yang juga turut diklaim Malaysia.

Produk kuliner berperan penting dalam industri pariwisata, sama kedudukannya dengan objek wisata, atraksi budaya, dan fasilitas pendukung pariwisata lainnya.

Berkaitan dengan gencarnya geliat industri dan promosi pariwisata Malaysia dan upaya pencitraan negaranya di tingkat internasional, kuliner menjadi bagian yang sangat penting untuk dikedepankan. Kuliner yang terpilih tentunya harus beragam dan memiliki nilai etnis serta cita rasa tinggi. Namun, yang menjadi permasalahannya kuliner yang diklaim sebagai produk khas Malaysia ini perlu dipertanyakan ke-khasannya, apakah kuliner tersebut benar-benar otentik asli Malaysia atau mencaploknya dari negara lain yang kaya akan produk kulinernya?

**

Indonesia merupakan negara dengan kekayaan produk kuliner khas yang sangat beragam dan termasuk yang terkaya di dunia. Berbagai jenis makanan dan minuman tradisional pun tersedia dengan cita rasa khas yang tidak dapat dijumpai di belahan dunia mana pun. Namun, tampaknya hal ini juga memancing negeri jiran tersebut untuk dapat menguasai produk kuliner di Indonesia.

Gelagat Malaysia dalam upaya klaimnya terhadap kuliner Indonesia sudah lama dilakukan dengan mengintai produk-produk khas Indonesia, untuk dijadikan produk kuliner etniknya. Hal itu didasari dengan mengungkapkan argumen bahwa kedekatan geografis dan rumpun bangsa yang sama menyebabkan banyak kuliner Malaysia yang mirip dengan Indonesia, karena kedua negara ini mendapat pengaruh yang sama, yakni dari Cina dan India seperti yang terjadi pada kuliner gado-gado, atau yang saat ini yang diketahui khalayak ramai adalah rendang Sumatra Barat, yang kaya akan bumbu rempah sudah diklaim sebagai kuliner asal Malaysia.

Tidak hanya rendang, tetapi beragam produk kuliner lain khas Indonesia sudah dikemas dengan standar internasional dengan label “Buatan Malaysia” di luarnya. Bahkan, pada kemasannya Malaysia tidak ragu-ragu mencantumkan nama yang sangat berbau Indonesia pada kemasannya. Produk-produk yang sudah dikembangkan antara lain mi kocok, otak-otak, rendang daging, laksa, rempeyek, berbagai produk jamu dan rempah-rempah, tauco, ketupat, lontong, gado-gado, sambal, pecel, soto, sate, cendol, bimpang, serundeng, dan banyak lagi produk-produk kuliner tradisional Indonsesia lainnya.

Bahkan, dalam beberapa produk kulinernya, Malaysia tidak segan-segan menggunalan kata-kata yang sangat identik dengan Indonesia sebagai selling point-nya, seperti “Bandung” dalam Mie Muar Bandung, dan “Bali” dalam teh Bali, serta banyak produk lainnya.

Produk-produk yang dikemukakan di atas, tidak semata-mata diproduksi untuk kebutuhan dalam negeri saja, tetapi sudah diproduksi masal dengan standar internasional dan berhasil digiring untuk menjadi komoditas ekspor andalan Malaysia ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia, sehingga tidak heran saat ini banyak produk kuliner Malaysia dapat negara-negara Eropa atau pun di supermarket-supermarket di Indonesia.

Hal lain dalam komoditas kuliner yang dikembangkan Malaysia yang juga mengundang keprihatinan adalah gencarnya promosi internasional Malaysia yang memosisikan negaranya, sebagai pusat rempah dunia. Hal ini menjadi strategis baginya, bukan hanya karena rempah-rempah menjadi unsur terpenting dalam pembentukan cita rasa kuliner, tetapi juga menjadi bagian strategi jangka panjangnya membangun industri rempah-rempah tingkat dunia.

Untuk kepentingan industri dan promosinya ini, Malaysia tidak segan-segan memelintir sejarah perkembangan rempah-rempah ratusan tahun yang lalu, dengan mengeliminasi Indonesia sebagai pusat rempah dunia. Malaysia juga mencitrakan dirinya sebagai pusat rempah dunia sejak ratusan tahun yang lalu, yang kemudian diekspos di media massa internasional sebagai bagian dari program pencitraan pariwisatanya.

**

Klaim yang terjadi atas kuliner Indonesia tersebut mungkin bukan semata-mata kesalahan Malaysia, melainkan kesalahan Indonesia sendiri. Malaysia kini mengembangkan kebijakan yang konsisten dan fokus pada paket-paket kebijakan serta berbagai strategi unik, yang dilakukan pemerintah dan didukung perusahaan-perusahaan negara, pihak perbankan dan pengusaha swasta. Mereka bersama-sama mendorong usaha besar dan kecil untuk memproduksi beragam produk kuliner yang berstandar internasional untuk mendukung industri pertanian dan pariwisatanya.

Untuk menguatkan komoditas berbasis kuliner ini, Malaysia memberikan bantuan yang disalurkan bagi wirausaha yang mengusahakan produk halal berupa bantuan keuangan khusus, kelonggaran pajak investasi 100 persen selama lima tahun, bantuan perencanaan dan pengembangan produk hingga pengembangan bisnis, pengawasan ketat melalui sertifikasi halal hingga perhatian khusus pada pengembangan paten yang menyangkut standar kualitas, proses produksi, penciptaan produk hingga standar-standar produk halal.

Upaya-upaya tersebut di atas diikuti dengan mengembangkan pasar dan promosi merek yang dianggap serius sebagai investasi strategis dalam menjamin keberlangsungan pasarnya. Bagaimana dengan nasib kuliner Indonesia selanjutnya? (Dwi Purnomo, Dosen Fakultas Teknologi dan Industri Pertanian Universitas Padjadjaran, mahasiswa Program Doktor TIP IPB)***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s