GENERASI II DALAM SISTEM AGROINDUSTRI

GENERASI II DALAM SISTEM AGROINDUSTRI

Dwi Purnomo

Aktivitas yang dilakukan pada tahap ini terdiri dari budidaya pertanian, peternakan, perikanan.  Untuk kegiatan budidaya ini, diperlukan keluaran dari Generasi I serta input lain yang diperlukan. Termasuk juga dalam aktivitas ini adalah penangkapan ikan dan hasil laut lainnya serta pengambilan hasil hutan. Yang berperan dalam aktivitas ini adalah alam dan manusia.  Output dari aktivitas ini terdiri dari:

  • •Hasil pertanian           : padi, jagung dll
  • •Hasil perikanan          : ikan, udang, dll
  • •Hasil peternakan        : daging, susu, telur dsb
  • •Hasil hutan                  : kayu, getah dsb.

Sesuai kebutuhan, hasil-hasil pertanian tersebut mungkin sampai kepada konsumen dalam bentuk segar maupun hasil olahan. Sebagai produk segar, maka harus dilakukan berbagai aktivitas yang dapat menjamin bahwa produk tersebut tidak busuk dan tidak rusak. Agar produk dapat sampai ke tangan konsumen dalam keadaan baik, maka sangat diperlukan berbagai aktivitas yang meliputi packing, penyimpanan dan transportasi. Di Indonesia, ketiga aktivitas ini belum tertangani dengan baik.  Hal ini mengakibatkan ekspor komoditi pertanian segar Indonesia kurang baik, padahal potensi ekspor (misalnya ke Timur Tengah) buah-buahan dan sayuran segar Indonesia sangat besar.  Karena aktivitas selama ini, ikan Indonesia tidak pernah mampu mencapai Grade I di US.  Untuk itu, sangat diperlukan TEKNOLOGI.

Fakta lain tentang produk pertanian segar untuk pangan adalah makin banyaknya konsumen menghindari mengkonsumsi produk olahan, dan mereka menuntut produk yang segar (bahkan tidak hanya masalah pengolahan pasca panen, saat ini makin banyak konsumen yang menuntut produk pertanian organik).  Karena itu, sedapat mungkin dihindari aktivitas pengolahan (termasuk penambahan bahan kimia).  Untuk itu, aktivitas yang lebih baik dilakukan adalah aktivitas yang bersifat conditioning misalnya atmosfir terkondisi.  Pada kasus penanganan ikan/udang, maka ikan/udang yang telah di-es-kan memiliki rasa yang tidak seenak produk yang segar.  Salah satu teknologi yang dapat dilakukan untuk mengatasi persoalan ini adalah Deep Cooling.

Dengan berbagai keunggulan komparatif Indonesia untuk Generasi II, seharusnya Indonesia mampu bersaing dalam produksi pertanian dengan berbagai negara lain di dunia.  Indonesia memiliki lahan seluas 1.9 juta km2, curah hujan sepanjang tahun, iklim tropis maritim-kepulauan..   Semuanya ini harus bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk keunggulan bersaing Indonesia.

Permasalahan Lahan di Indonesia

Umumnya, kepemilikan lahan di Indonesia kecil sehingga tidak mampu mendukung kesejahteraan keluarga jika mengandalkan aktivitas pertanian. Kepemilikan yang kecil ini juga terpengaruh oleh budaya pembagian tanah (‘budaya Jawa’) kepada anak dan keturunan berikutnya.  Akibatnya, setelah beberapa generasi, maka lahan yang dimiliki masing-masing keluarga tidak mampu mendukung kesejahteraan mereka.  Persoalan seperti ini perlu diatasi.  Sebagai pembanding: Di Jerman, lahan dikonsolidasikan sehingga cukup luas untuk kegiatan komersial.  Persoalannya, bagaimana peran pemerintah dalam menangani masalah ini?  Di antara upaya pemerintah dalam masalah kepemilikan lahan ini adalah transmigrasi yang dulu dilakukan dengan memberikan lahan seluas 2 hektar untuk tiap keluarga transmigran.

Persoalan lain yang menyangkut lahan adalah bahwa lahan yang sangat luas yang ada tidak terbagi dengan baik sehingga masing-masing keluarga memiliki lahan yang cukup untuk hidup secara layak.

Permasalahan Penggunaan Input untuk Peningkatan Produksi

Tingginya peran manusia dalam Generasi I (misal pada GMO) menuntut tingginya kebutuhan input pada Generasi II. Ketidakmampuan petani memberikan input yang cukup untuk aktivitas budidaya menyebebkan produksi yang mampu dicapai belum maksimal.

Ternyata, pola-pola pertanian lama (‘kearifan lokal’) seringkali menyebabkan input ini tidak harus besar. Sebagai contoh adalah sistem pertanian tumpang sari, mina padi, serta pergiliran penanaman.  Pola pertanian seperti ini dapat membantu mengistirahatkan lahan serta memutus daur hidup hama/penyakit.  Sebaliknya penggunaan input berlebihan, menyebabkan tidak semua pola pertanian tersebut dapat diteruskan. Misalnya penggunaan pupuk buatan dan pestisida yang intensif menyebabkan ikan tidak dapat lagi dipelihara bersama padi.

Sebagai ilustrasi adalah Cerita Haji Lele.  Haji Lele, seorang petani yang bertani pepaya dan pisang, mengembangkan budidaya ikan lele dan bekicot.  Bekicot digunakan untuk pakan ikan lele, pisang dan pepaya untuk makanan bekicot.  Selain itu ia juga memiliki kolam dimana orang dapat buang air besar di situ.  Buangan dari kolam ini digunakan untuk budidaya cacing (vermicompost) yang juga digunakan untuk pakan lelenya. Dengan pola seperti ini, ia tidak harus mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk kegiatan budidaya ikan lelenya. Kesimpulan dari ilustrasi ini adalah bahwa energi potensial yang ada harus dimanfaatkan semaksimal mungkin dan jangan disia-siakan sehingga menguntungkan bagi aktivitas manusia.

Evaluasi Rencana Pengembangan Kegiatan Agroindustri Baru

Evaluasi rencana kegiatan agroindustri baru, harus dilakukan berdasarkan analisia kelayakan dari segi finansial maupun segi ekonomi. Adapun evaluasi secara ekonomi dapat memanfaatkan model-model ekonometrika. Analisa finansial dapat dilakukan untuk keseluruhan kegiatan, ataupun secara parsial. Evaluasi kegiatan secara keseluruhan dilakukan dengan menggunakan konsep ekonomi teknik (adanya nilai waktu dari uang, time value of money). Sedangkan pada analisa secara parsial perlu dipertimbangkan masalah oportunity cost. Pada analisis secara parsial, maka hilangnya kesempatan memperoleh keuntungan dari aktivitas yang telah dilakukan selama ini harus diperhitungkan sebagai tambahan biaya bagi kegiatan baru yang akan dilaksanakan.  Sebaliknya berkurangnya biaya dengan menghilangkan aktivitas sebelumnya dapat diperhitungkan sebagai tambahan manfaat dari aktivitas baru yang akan dilakukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s