Ironi Negara Laut Pengimpor Garam

ditulis oleh:

Osakurniawanilham

http://ekonomi.kompasiana.com/2009/11/27/ironi-negara-laut-pengimpor-garam/

|  27 November 2009  |  06:24

Percayakah Anda bahwa sejumput garam yang ada di makanan Anda kemungkinan besar bukan berasal dari negeri sendiri ?

Sejak 1997, selama hampir 9 tahun saya bekerja di sebuah perusahaan besar milik Jepang di Cilegon Banten yang bergerak di bidang petrochemical. Walaupun kami hanya memproduksi bahan kimia dasar, saya yakin bahwa Anda semua adalah konsumen dari produk kimia kami itu. Kalau Anda mandi, sabun yang Anda pakai itu menggunakan zat kimia NaOH (Natrium Hidroksida) atau biasanya kita menyebut Caustic Soda atau Soda Api, nah itulah salah satu produk kami.

Anda pasti tidak percaya kalau bahan baku pembuatan Caustic Soda ini adalah garam. Garam ?! Ya benar-benar garam, sama seperti yang biasa Anda pakai untuk memasak. Hanya bedanya, kalau Anda ingin garam bermineral (beryodium), kami tidak menginginkan adanya mineral di garam yang kami pakai itu. Garam ini setelah kami proses untuk dibersihkan akan kami masukkan ke Electrolysis Cell (teknologi membran, paten oleh Asahi Glass Japan) untuk kemudian menghasilkan Caustic Soda sebagai produk utama. Kapasitas produksi kami adalah 400.000 ton/tahun untuk caustic soda, belum hasil sampingan yang lain.

Untuk urusan bahan baku garam ini, kami mempunyai sebuah lapangan besar lengkap dengan conveyornya yang berfungsi sebagai gudang garam (bukan pabrik rokok lho..). Kapasitas gudang garam kami adalah 45.000 Ton. Untuk menjaga kontinuitas produksi, 2 kali sebulan sebuah kapal pengangkut garam berkapasitas 30.000 Ton akan datang dan melepaskan muatan garamnya ke gudang garam kami. Jadi konsumsi bahan baku garam industri adalah sekitar 720.000 Ton per tahun. Seingat saya, garam tersebut kami impor dari Australia barat, sebuah padang gurun di bagian barat Australia yang dimanfaatkan sebagai penghasil garam khusus industri. Pernah suatu kali terjadi badai berkepanjangan di Australia sehingga membuat kami harus mengimpor dari India. Harganya memang murah, tapi kandungan mineral dan pengotornya masih sangat tinggi sehingga peralatan produksi kami cepat rusak.

Nah untuk urusan garam ini banyak orang bertanya kepada kami mengapa untuk urusan remeh temeh semacam garam saja, perusahaan kami harus mengimpor jauh-jauh dari Australia atau India ?! Kenapa tidak mengambil dari Madura saja ? Lalu biasanya saya akan menjawab, boro-boro untuk urusan garam industri, untuk mencukupi kebutuhan garam rumah tangga saja pemerintah republik ini sudah sangat pas-pasan.

Benar Saudaraku. Untuk urusan remeh temeh seperti garam saja kita harus impor. Majalah Gatra edisi 9 September 2009 menyebutkan bahwa dalam setahun setidaknya Indonesia menghabiskan devisa sebesar Rp 900 milyar untuk mengimpor garam sedikitnya 1.28 juta ton. Menurut data Departemen Perindustrian dan Perdagangan tahun 2003, tercatat kebutuhan garam nasional mencapai 855.000–950.000 ton untuk kebutuhan konsumsi dan 1.150.000–1.345.000 ton untuk kebutuhan industri.

Lalu bagaimana produksi garam nasional kita ? Menurut data dari PT Garam tahun 2000,

BUMN ini hanya mampu menghasilkan 307.000 Ton/tahun sedangkan industri garam rakyat hanya berkisar 1.022.000 Ton. Semuanya dihasilkan oleh tambak garam seluas 30.500 ha. Jadi produktivitasnya sebesar 45 Ton/ha/tahun. Itu hanya pas-pasan untuk mencukupi kebutuhan garam konsumsi, karena kualitasnya masih jauh di bawah spesifikasi garam industri yang menuntut NaCl di atas 95%. Konsekuensinya, kita masih perlu mengimpor 1.3 juta ton garam industri untuk keperluan industri kimia.

Jadi coba direvisi lagi kalau di buku-buku pelajaran anak-anak kita menyebutkan bahwa Madura adalah penghasil garam Indonesia. Memang Madura penghasil garam, tapi hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan garam konsumsi kalau tidak dikatakan pas-pasan. Sebuah ironi bukan ? Bahwa negara Indonesia yang memiliki garis pantai terpanjang sedunia yaitu 167.000 km, memiliki lautan luas yang menjadi bahan baku gratis industri garam tapi harus mengimpor garam dari luar.

Industri pembuatan garam sebenarnya sangat mudah. Menurut teman yang pernah melakukan kunjungan ke industri garam di Australia Barat, mereka memanfaatkan padang gurun di sana sebagai tambak-tambak garam. Cukup alirkan air laut ke tambak, biarkan di bawah terik matahari lalu di tambak akan tertinggal garam-garam yang siap dijual. Kalau mau dijual dalam bentuk garam industri yang minim mineral, cukup dialirkan ke tangki-tangki air secara terus menerus sampai kotoran dan mineralnya berkurang. Kalau mau dijual dalam bentuk garam rumah tangga, cukup masukkan ke proses lanjutan untuk yodiumisasi. Gampang dan tidak membutuhkan proses dan teknologi yang rumit selain kebutuhan lahan yang luas sebagai tambak. Tapi coba lihat data produksi garam Australia di tahun 2003, sampai mencapai produksi 10 juta Ton per tahun, hampir 10 persen dari total produksi garam dunia.

Saya juga heran kenapa selama ini pemerintah tidak mampu mengembangkan industri garam. Tidak mampu atau tidak mau ? Apalagi saat sekarang terjadi global warming (pemanasan global), sebenarnya semakin gampang membuat garam karena temperatur udara memang sudah meningkat dan matahari memang semakin terik. Untuk meningkatkan produksi garam ada 2 hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah. Yang pertama adalah memperbaiki metode dan teknik penambakan garam sehingga bisa meningkatkan produktivitas garam menjadi 75 Ton/ha/tahun. Yang kedua, dengan membuka lahan tambak baru, terutama dengan metode dan teknologi untuk menghasilkan garam industri.

Madura memang cocok untuk dijadikan industri garam karena tanahnya yang tandus, tidak cocok untuk pertanian sehingga lebih baik dipakai sebagai tambak garam. Dengan luas lahan 15.000 ha sekarang, pemerintah tinggal membantu petani garam untuk memperbaiki kualitas dan produktivitasnya.

Sebenarnya Nusa Tenggara Timur yang memiliki garis pantai panjang dan lahan tandus luas dengan curah hujan yang minim juga cocok dijadikan tambak garam. Pemerintah juga bisa menggunakan sekian puluh pulau tandus tak berpenghuni dari 17.000 pulau yang kita miliki untuk digunakan sebagai pulau khusus industri garam.

Modal yang dibutuhkan untuk investasi awal hanyalah penyiapan lahan untuk tambak garam, pembuatan dermaga untuk kapal garam dan pembangkit listrik mini hanya sekedar untuk menyediakan alat-alat listrik untuk proses produksi. Setelah semuanya siap, praktis kita tinggal mengalirkan air laut lalu menuai hasilnya.

Tapi sekali lagi entah kenapa pemerintah tidak berniat membangun industri garam. Moga-moga kelak kalau ada di antara pembaca yang menjadi presiden, Andalah yang akan membangun industri garam itu. Percayalah, sampai dunia ini kiamat Anda tidak akan kehilangan konsumen garam, karena garam akan selalu digunakan dan dibutuhkan.

Sumber pustaka:

  1. Majalah Gatra, edisi 9 September 2009.
  2. Proses Pembentukan Kristalisasi Garam. Dini Purbani. Departemen Kelautan dan Perikanan. 2003. http://www.dkp.go.id
  3. http://www.cea-life.com/minerals_health/salt_industry.htm
  4. http://www.istp.murdoch.edu.au/ISTP/casestudies/Pilbara/economic/Salt_Industry.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s