Penguatan Masyarakat Kluster Buah (Masterbu) Ciayumajakuning

Ditulis oleh Dwi Purnomo – FTIP Unpad

Kawasan Cirebon, Majalengka, Indramayu Dan Kuningan Propinsi Jawa Barat adalah sentra penghasil buah-buahan terutama mangga di Indonesia, ditengah kesuksesannya sebagagi daerah produksi terbesar, kawasan ini ternyata menyimpan berbagai permasalahan pelik dalam upayanya meningkatkan nilai tambahnya. permasalahan-permasalahan itu antara lain adalah:

  1. Posisi tawar pelaku cluster buah  pada saat ini umumnya lemah,
  2. Pelaku cluster buah  kurang mendapatkan/memiliki akses pasar, informasi pasar dan permodalan yang kurang memadai.
  3. Pelaku cluster buah  kesulitan menjual hasil panennya karena tidak punya jalur pemasaran sendiri.

Untuk itu, saat ini tengah dikembangkan penguatan kelelmbagaan dalam rangka mengaktifkan  cluster buah di kawasan Cirebon, Majalengka, Indramayu dan Kuningan (Ciayumajakuning), penguatan kelembagaan ini dirasakan perlu sebagai upaya terhadap mengangkat para pelaku dari ketidakberdayaan pelaku cluster buah-buahan dalam melakukan negosiasi harga hasil produksinya.

Selain hal-hal di atas lemahnya posisi tawar para pelaku cluster buah, yang terdiri dari petani,  produsen puree dan olahan buah mangga lainnya pada umumnya disebabkan kurang mendapatkan atau memiliki akses pasar, informasi pasar dan permodalan yang kurang memadai.  Sehingga penguatan posisi tawar melalui kelembagaan merupakan suatu kebutuhan yang sangat mendesak dan mutlak diperlukan oleh pelaku cluster buah mangga di Kawasan Ciayumajakuning. hal ini dilakukan dengan maksud agar dapat bersaing dalam melaksanakan kegiatan usaha dengan baik  dan dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

Selain itu peningkatan produktivitas pertanian yang selama ini dilakukan tidak lagi menjadi jaminan akan memberikan keuntungan layak bagi pelaku cluster buah  tanpa adanya kesetaraan pendapatan antara pelaku cluster buah  yang bergerak di sub sistem on farm dengan pelaku cluster di sub sektor hulu dan hilir.

Dalam upaya peningkatan kualitas kelembagaan, terdapat beberapa upaya yang diharapkan oleh pelaku  cluster yang harus dilakukan bersama-sama untuk menaikkan posisi tawar secara kolektif dengan cara. Dari diskusi yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa, untuk rencana selanjutnya maka perlu dilakukan kegiatan sebagai berikut :

  1. Konsolidasi pelaku cluster buah Kawasan Ciayumajakuning dalam satu wadah kelembagaan untuk menyatukan gerak ekonomi dalam setiap rantai produksi, dari pra produksi sampai pemasaran;
  2. Kolektifikasi produksi, yaitu perencanaan produksi secara kolektif untuk menentukan pola, jenis, kuantitas dan siklus produksi secara kolektif; dan
  3. Kolektifikasi dalam pemasaran produk pertanian.

Rencana penguatan kelembagaan pelaku cluster buah  yang akan dibentuk diharapkan memiliki titik strategis dalam menggerakkan cluster buah yang selama ini telah dirintis. Untuk itu segala sumberdaya yang ada di kawasan Ciayumajakuning akan difasilitasi untuk diarahkan/diprioritaskan dalam rangka peningkatan profesionalisme dan posisi tawar pelaku cluster buah  (kelompoktani atau lembaga masayarakat cluster buah), karena pada saat ini potret pelaku cluster buah  dan kelembagaan pelaku cluster buah  di kawasan ini belum sebagaimana yang diharapkan.

Dalam kunjungan pendahuluan ke lapangan, juga ditemukan beberapa permasalahan yang melekat pada para pelaku cluster buah  dan bakal kelembagaan pelaku cluster buah  di Kawasan ini, yakni:

  1. Masih minimnya wawasan dan pengetahuan pelaku cluster buah  terhadap masalah manajemen produksi maupun jaringan pemasaran.
  2. Belum terlibatnya secara utuh pelaku cluster buah  dalam kegiatan agribisnis. Aktivitas pelaku cluster buah  masih terfokus pada kegiatan produksi (on farm).
  3. Peran dan fungsi kelembagaan pelaku cluster buah  sebagai wadah organisasi pelaku cluster buah  belum berjalan secara optimal.

Untuk mengatasi permasalahan di atas, rencana penguatan kelembagaan clustrer buah Kawasan Ciayumajakuning akan dirintis  dengan melakukan upaya pengembangan, pemberdayaan, dan penguatan kelembagaan yang melibatkan seluruh pelaku cluster buah  (yang melingkupi: kelompoktani, lembaga tenaga kerja, kelembagaan penyedia input, kelembagaan output, kelembagaan penyuluh, dan kelembagaan permodalan) dan diharapkan dapat melindungi bargaining position pelaku cluster buah .

Output yang diharapakan dalam kegiatan fasilitasi penguatan kelembagaan ini adalah secara bertahap memenuhi harapan para pelaku cluster buah dengan adanya tindakan perlindungan sebagai keberpihakan pada pelaku cluster buah  tersebut adalah dengan terwujudnya produk yang bernilai tambah dan tingkat harga output yang layak dan menguntungkan.

Dengan demikian, penguatan dan pemberdayaan kelembagaan ini juga diharapkan dapat menghasilkan pencapaian kesinambungan dan keberlanjutan daya dukung SDA dan berbagai usaha untuk menopang dan menunjang aktivitas kehidupan pembangunan pertanian di pedesaan.

Arah penguatan kelembagaan MASTERBU:

  1. Pengusahaan komoditas buah (pangan/non pangan) yang paling menguntungkan,
  2. Skala usaha ekonomis dan teknologi padat karya,
  3. Win-win mutualy dengan kemitraan yang kolehial,
  4. Tercipta interdependensi hulu-hilir,
  5. Modal berkembang dan kredit melembaga (bank, koperasi, pelaku cluster buah ),
  6. Koperatif, kompetitif dan transparan melalui sistem informasi bisnis,
  7. Memanfaatkan peluang di setiap subsistem agribisnis, serta
  8. Dukungan SDM yang berpendidikan, rasional, mandiri, informatif, komunikatif, dan partisipatif (inovatif)

Katalisator Pemberdayaan MASTERBU

  1. akses kepada informasi,
  2. partisipasi,
  3. akuntabilitas,
  4. pengembangan organisasi lokal
  5. jaringan kerjasama

FASILITASI PENGUATAN KELEMBAGAAN CLUSTER CIAYUMAJAKUNING

Pemberdayaan Kelembagaan Masyarakat Cluster Buah Caiyumajakuning (MASTERBU) yang akan dirintis ini diarahkan untuk mampu memberikan kekuatan bagi pelaku cluster buah  (posisi tawar yang tinggi). Penguatan posisi tawar pelaku cluster buah  melalui kelembagaan merupakan suatu kebutuhan yang sangat mendesak dan mutlak diperlukan oleh pelaku cluster buah , agar dapat bersaing dalam melaksanakan kegiatan usahatani dan dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Arah pemberdayaannya akan disesuaikan dengan kesepakatan yang telah dirumuskan bersama. Dengan partisipasi yang tinggi terhadap kelembagaan pelaku cluster buah , diharapkan rasa ikut memiliki dari masyarakat atas semua kegiatan yang dilaksanakan akan juga tinggi.

KELEMBAGAAN MASTERBU

Dalam upaya meningkatkan daya saing dan dalam upaya mencapai kesetaraan pendapatan dapat dicapai dengan peningkatan posisi tawar pelaku cluster buah . Hal ini dapat dilakukan jika pelaku cluster buah kawasan Ciayumajakuning  tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi menghimpun kekuatan dalam suatu lembaga yang betul-betul mampu menyalurkan aspirasi mereka. Oleh karena itu pendampingan yang dilakukan harus lebih tertuju pada upaya membangun kelembagaan. Lembaga ini hanya dapat berperan optimal apabila penumbuhan dan pengembangannya dikendalikan sepenuhnya oleh pelaku cluster buah  sehingga pelaku cluster buah  harus menjadi subjek dalam proses tersebut.

Kelembagaan yang perlu dibangun pada pelaku cluster buah perlu dilandasi oleh kesadaran berkomunitas/kelompok yang tumbuh atas dasar kebutuhan, bukan paksaan dan dorongan proyek-proyek tertentu. Tujuannya adalah

  1. Untuk mengorganisasikan kekuatan para pelaku cluster buah  dalam memperjuangkan hak-haknya,
  2. Memperoleh posisi tawar dan informasi pasar yang akurat terutama berkaitan dengan harga produk pertanian
  3. Berperan dalam negosiasi dan menentukan harga produk pertanian yang diproduksi anggotanya .

Ada empat kriteria agar asosiasi pelaku cluster buah itu kuat dan mampu berperan aktif dalam memperjuangkan hak-haknya, yaitu :

  1. Asosiasi harus tumbuh dari pelaku cluster buah  sendiri,
  2. Pengurusnya berasal dari para pelaku cluster buah  dan dipilih secara berkala,
  3. Memiliki kekuatan kelembagaan formal dan
  4. Bersifat partisipatif.

Dengan terbangunnya kesadaran seperti diatas, maka diharapkan pelaku cluster buah  mampu berperan sebagai kelompok yang kuat dan mandiri, sehingga pelaku cluster buah  dapat meningkatkan pendapatannya dan memiliki akses pasar dan akses perbankan.

Rencana upaya yang  dilakukan dalam upaya menaikkan posisi tawar pelaku cluster buah dalam periode pengutan kelembagaan ini  adalah dengan :

Konsolidasi pelaku cluster buah  dalam satu wadah untuk menyatukan gerak ekonomi dalam setiap rantai pertanian, dari pra produksi sampai pemasaran.

Konsolidasi ini dengan kolektifikasi semua proses dalam rantai, meliputi kolektifikasi modal, kolektifikasi produksi, dan kolektifikasi pemasaran. Kolektifikasi modal adalah upaya membangun modal secara kolektif dan swadaya, misalnya dengan gerakan simpan-pinjam produktif yang mewajibkan anggotanya menyimpan tabungan dan meminjamnya sebagai modal produksi, bukan kebutuhan konsumtif. Hal ini dilakukan agar pemenuhan modal kerja pada awal masa tanam dapat dipenuhi sendiri, dan mengurangi ketergantungan kredit serta jeratan tengkulak.

Kolektifikasi produksi.

Perencanaan produksi secara kolektif untuk menentukan pola, jenis, kuantitas dan siklus produksi secara kolektif. Hal ini perlu dilakukan agar dapat dicapai efisiensi produksi dengan skala produksi yang besar dari banyak produsen. Efisisensi dapat dicapai karena dengan skala yang lebih besar dan terkoordinasi dapat dilakukan penghematan biaya dalam pemenuhan faktor produksi, dan kemudahan dalam pengelolaan produksi, misalnya dalam penanganan hama dan penyakit. Langkah ini juga dapat menghindari kompetisi yang tidak sehat di antara produsen yang justru akan merugikan, misalnya dalam irigasi dan jadwal tanam.

Kolektifikasi dalam pemasaran produk pertanian.

Hal ini dilakukan untuk mencapai efisiensi biaya pemasaran dengan skala kuantitas yang besar, dan menaikkan posisi tawar produsen dalam perdagangan produk pertanian. Kolektifikasi pemasaran dilakukan untuk mengkikis jaring-jaring tengkulak yang dalam menekan posisi tawar pelaku cluster buah  dalam penentuan harga secara individual. Upaya kolektifikasi tersebut tidak berarti menghapus peran dan posisi pedagang distributor dalam rantai pemasaran, namun tujuan utamanya adalah merubah pola relasi yang merugikan pelaku cluster buah  produsen dan membuat pola distribusi lebih efisien dengan pemangkasan rantai tata niaga yang tidak menguntungkan.

 

Tulisan ini ditulis dalam proses pendampingan kelembagaan MASTERBU 2010

3 thoughts on “Penguatan Masyarakat Kluster Buah (Masterbu) Ciayumajakuning

  1. Selamat dengan terbentuknya MASTERBU, bersatu pasti kita bisa
    Sukses……………ses…………….ses………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s