Seputar Produk Halal dan Sertifikasinya

1. Apakah Halal Itu?

Menurut terminologi Islam, pada prinsipnya semua bahan makanan dan minuman adalah halal, kecuali yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Bahan yang diharamkan Allah adalah bangkai, darah, babi dan hewan yang disembelih dengan nama selain Allah (QS. Al-Baqarah : 173), minuman yang diharamkan Allah adalah semua bentuk khamar (minuman beralkohol) (QS. Al-Baqarah : 219). Hewan yang dihalalkan akan berubah statusnya menjadi haram apabila mati karena tercekik, terbentur, jatuh ditanduk, diterkam binatang buas dan yang disembelih untuk berhala (QS. Al-Maidah:3). Jika hewan-hewan tersebut sempat disembelih dengan menyebut nama Allah sebelum mati, maka akan tetap halal kecuali diperuntukkan bagi berhala (LPPOM, MUI 2009)

Produk halal, secara syariah Islam adalah produk yang baik atau dikenal dengan istilah halaalan, thayyiban dan mubaarakan dan tidak terdiri dari najis atau bercampur najis.

2. Bagaimana suatu produk makanan yg mengandung unsur daging dikatakan halal atau tidak halal?

Daging dinyatakan halal jika bukan daging babi dan terbebas dari produk turunan babi serta dipotong sesuai degan syariah islam. Sertifikat halal adalah fatwa tertulis ulama atas produk yang diajukan. Suatu produk dinyatakan halal melalui keputusan fatwa ulama. Fatwa ini didahului oleh penelitian pada produk yang diajukan oleh badan sertifikasi halal yang diakui oleh organisasi ulama setempat. peraanan lembaga sertifikasi ini adalah memastikan bahwa dari selurtuh rangkaian produksi dari peternakan hingga makanan siap dikonsumsi tidal mengandung atau tercampur dengan bahan-bahan non-halal.

3.   Rumah Potong Ayam

Tidak seluruhnya tersertifikasi halal. bukan berarti tidak halal ya, sesuai dengan kaidah islam tidak dia memotongnya.sebaiknya kita memilih ayam yang sudah pasti kehalalannya yang dipastikan dengan kepemilikan sertifikat halal yang sah dr lembaga yang resmi. misalnya LPPOM MUI. Contohnya di kota xxxxxxx banyak pemotongan ayam tradisonal terutama di pasar tradisional mengabaikan prinsip syariah ini, sehingga daging ayam yang dipotong bisa jadi termasuk golongan haram, namun sedihnya, publik tidak begitu peduli dengan hal ini.

4.   Food Court di Indonesia Halal?

Di Indonesia memang banyak sekali food court yang tidak bersertifikat halal, namun bukan berarti mereka tidak halal. Hanya saja kehalalannya tsb belum terbukti dan dapat dipertanggungjawabkan secara syariah dan keilmuan.

Banyaknya usaha yang tidak tersertifikasi halal, dikarenakan sertifikasi halal sifatnya voluntary bukan kewajiban, sehingga yang perlu ditingkatkan adalah kesadaran mayarakatnya untuk senantiasa aware akan kehalalan apa yang dikonsumsinya. Para pengusaha cenderung keberatan untuk sertifikasi atas berbagai alasan baik biaya atau birokrasinya. Padahal prosesnya tidak rumit, mengenai biaya sebenarnya dengan memiliki sertifikat halal ini akan menjadi nilai tambah bagi produknya sehingga konsumen merasa aman atas apa yang dikonsumsinya.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s