Masih Rendah, Daya Saing Indonesia di Agroindustri Halal

Dilaporkan oleh: Marlia Humas Unpad

[Unpad.ac.id, 19/09/2011] Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki populasi muslim terbesar dengan pangsa pasar halal terbesar di dunia. Dengan meningkatnya tren agroindustri halal di tingkat internasional, produsen dan pelaku bisnis halal telah memiliki rencana ekspansi pasar secara internasional termasuk ke Indonesia. Ini menyebabkan Indonesia terancam menjadi tujuan pasar halal terbesar di dunia, bukan sebagai pelaku dan produsen produk halal utama dunia.

“Hal ini karena Indonesia tidak memiliki langkah strategis untuk meningkatkan daya saingnya untuk dapat bersaing di tingkat internasional. Indonesia memiliki visi pengembangan agroindustri halal hanya melingkupi perlindungan konsumen muslim dalam negeri saja,” jelas Dwi Purnomo dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor di Ruang Sidang Senat Gedung Andi Hakim Nasoetion Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Darmaga Bogor, Senin (19/09) kemarin.

Dalam disertasinya yang berjudul “Strategi Pengembangan Agroindustri Halal Dalam Mengantisipasi Bisnis halal Global”, Dwi menjelaskan posisi daya saing Indonesia dibandingkan dengan lima negara ASEAN lain yang mengembangkan agroindustri halal, yaitu Malaysia, Thailand, Filipina, Brunei Darussalam dan Singapura. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan deskripsi kondisi terkini perkembangan agroindustri halal Indonesia, menghasilkan analisis situasional dan menyusun strategi pengembangan agroindustri halal Indonesia yang dapat bersaing di tingkat internasional, khususnya di ASEAN.

Dosen Jurusan Teknik dan Manajemen Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Industri Pertanian Unpad ini menjelaskan bahwa diantara enam negara tersebut Malaysia adalah negara dengan posisi daya saing yang paling tinggi, sedangkan Indonesia memiliki posisi daya saing yang relatif dekat dengan Brunei Darussalam dan Singapura.

Sementara itu, bila ditinjau dari faktor-faktor intrinsik produk dalam pengembangan agroindustri halal yang merupakan fokus perhatian konsumen dalam memilih produk halal, Malaysia dan Thailand memiliki tingkat kematangan yang lebih maju, sementara Indonesia berada pada posisi yang cukup baik.

Faktor-faktor intrinsik ini mencakup penampilan roduk, rasa, harga, mutu, variasi produk, cara penyajian, apresiasi konsumen dan level of trust.  Penilaian terhadap faktor intrinsik produk dilakukan pada lima kelompok produk-produk halal yang dikaji yakni produk daging, makanan dan minuman olahan, mikrobial, seasoning dan flavour, serta kosmetik dan obat-obatan.

”Indonesia cukup unggul dalam hal harga, rasa, variasi produk dan level of trust. Dalam hal mutu, penampilan produk dan cara penyajian, Indonesia perlu memberikan perhatian lebih dalam agar mampu ditingkatkan atau menyamai kekuatan produk-produk halal kompetitor dari negara lain,” ujar pria kelahiran Bandung, 9 Mei 1980 ini.

Penelitian ini juga mencakup perbandingan posisi Indonesia diantara enam negara ASEAN diatas terkait faktor-faktor ekstrinsik yang meliputi kebijakan dan komitmen pemerintah, tingkat kesadaran masyarakat dan industri, advokasi internasional dan lokal, tingkat inovasi dan daya saing produk, kemampuan lembaga sertifikasi, riset dan penguasaan teknologi, ketersediaan bahan baku, potensi pasar, jejaring kelembagaan, infrastruktur logistik, sistem sertifikasi halal, dan kekuatan dan jumlah pelaku industri halal.

”Hasil perbandingan hasil analisis kekuatan, kelemahan, potesi dan ancaman secara keseluruhan menunjukkan bahwa, Malaysia dan Thailand menjadi negara yang memiliki kelengkapan faktor ekstrinsik kelembagaan yang jauh lebih maju dibandingkan dengan negara-negara lainnya,” jelas Dwi.

Agroindustri halal Indonesia memiliki beberapa faktor yang kondisinya mendekati ideal seperti potensi pasar yang besar, kemampuan lembaga sertifikasi, ketersediaan bahan baku dan sistem sertifikasi yang paling unggul di dunia, sedangkan faktor infrastruktur menjadi faktor dengan kondisi eksiting terburuk dan tingkat urgensi yang paling tinggi. Faktor lain yang perlu segera diatasi adalah kemampuan riset atau penelitian dan pengembangan, tingkat inovasi, kemampuan advokasi, serta komitmen pemerintah yang rendah.

Dari penelitian ini, Dwi menyampaikan bahwa hasil yang diperoleh dari penentuan prioritas strategi dalam pengembangan agroindustri halal, yaitu pembangunan infrastruktur logistik yang kompatibel dengan konsep halal, perbaikan perundang-undangan dan rencana pembangunan jangka panjang, peningkatan koordinasi antar pemangku kebijakan dan kepentingan, pengembangan kemampuan advokasi dan jejaring kerjasama perdagangan,peningkatan daya saing produk halal dalam negeri, peningkatan penguasaan penelitian dan pengembangan agroindustri halal, peningkatan kesadaran masyarakat dan industri dan penciptaan halal champions.

One thought on “Masih Rendah, Daya Saing Indonesia di Agroindustri Halal

  1. Apa kabar Kang Dwi. Berhubung lagi ngasih training sertifikasi halal jadi buka blog nya Kang Dwi. Stuju nih, infrastruktir kita memang masih terbatas, tapi jangan putus asa.. maju terus..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s