AGROINDUSTRI HALAL

Menurut Purnomo (2011), agroidustri halal adalah bagian atau salah satu sub-sistem agribisnis yang memperoleh dan atau mentransformasikan bahan-bahan hasil pertanian menjadi bahan setengah jadi maupun barang jadi, yang selama prosesnya, baik itu pemotongan hewan, penggunaan bahan baku, mekanisme, sumber keuangan dan atau manejemennya mempertimbangkan hukum Islam untuk menciptakan produk yang baik dengan pemenuhan terhadap persyaratan kemanan secara religious  khususnya bagi umat muslim (spiritual safety concern), serta secara umum memenuhi persyaratan mutu, keamanan dan kesehatan (quality and health concern) yang dapat dikonsumsi atau digunakan oleh umat Muslim ataupun non-Muslim, dimana tidak terdiri dari unsur-unsur yang diharamkan, najis atau bercampur najis.

Dalam pengembangan pasar produk agroindustri halal, kecermatan terhadap kondisi bisnis dan perdagangan produk agroindustri halal yang meliputi elemen-elemen konsumen, produk, maupun praktik perdagangan perlu dicermati. Terdapat empat hal yang penting dalam menentukan potensi pasar produk-produk agroindustri halal (Gambar 1) yaitu kondisi permintaan produk saat ini dan yang akan datang, kompetisi internal dan struktur industri, adaptasi pasar terhadap rasa, pilihan, dan lainnya serta hambatan tarif dan non tarif di wilayah domestik maupun global.

 

Gambar 1. Elemen-Elemen Potensi Pasar Produk  Agroindustri Halal (Sungkar, 2007)

Kecermatan pemasaran produk terhadap keinginan dan kepuasan konsumen merupakan salah satu faktor penting dalam mengembangkan dan mempertahankan pasar produk agroindustri halal. Konsumen mengharapkan produk agroindustri  halal bermutu tinggi dengan harga kompetitif. Pemenuhan terhadap kesesuaian keinginan konsumen perlu diutamakan, sehingga produsen maupun pelaku bisnis perlu memahami karakteristik permintaan terhadap produk halal.

Cakupan produk agroindustri halal meliputi produk-produk bernilai tambah yang diolah sebagai produk makanan halal atau bahan konsumtif yang halal dimakan atau digunakan, adalah jawaban atas permintaan pasar yang besar terutama bagi negara-negara berpenduduk muslim. Potensi yang dimiliki dan tren dunia akan meningkatnya kesadaran konsumen muslim terhadap produk-produk halal dan tumbuhnya jumlah penduduk muslim yang mencapai 1,8 miliar jiwa dari 6,5 miliar jiwa penduduk dunia semakin menguatkan permintaan akan produk-produk halal internasional. Perkembangan produk halal tidak hanya terjadi di negara-negara yang mayoritas penduduknya Islam saja tetapi juga di negara-negara barat, karena perusahaan-perusahaan internasional yang berpusat di negara-negara tersebut kini menggunakan konsep halal sebagai salah satu strategi bisnis dan pemasarannya. Hal tersebut dilakukan, mengingat secara global, pasar halal dunia sangat menjanjikan, dan  diperkirakan mencapai sekitar 12 persen dari total perdagangan global produk pangan dan pertanian dengan nilai antara USD 347-500 milyar per tahun (Che-Man, 2006).

Dengan besarnya pertumbuhan rata-rata pasar produk halal yang mencapai tujuh persen per tahun dan diperkirakan mencapai dua kali lipat di beberapa negara Asia dengan jumlah penduduk muslim besar seperti Indonesia, Republik Rakyat China, Pakistan dan India dalam 10 tahun ke depan (Sungkar, 2009), maka banyak negara muslim maupun non muslim berupaya mengembangkan dan meningkatkan produksi produk  halal untuk mengisi pasar dunia. Hal ini menjadi suatu masalah yang serius jika potensi masyarakat muslim Indonesia hanya dijadikan pasar oleh negara lain. Keadaan tersebut juga sekaligus menjadi tantangan bagi Indonesia agar dapat memanfaatkan pertumbuhan pasar halal dunia untuk menyiapkan produk halal yang dapat diserap dalam memenuhi kebutuhan  produk halal yang semakin meningkat.

Dengan semakin berkembangnya pasar pangan halal global, berbagai negara telah membangun strategi untuk memasuki, memanfaatkan peluang dan mengembangkan bisnis pangan halal domestik, regional maupun global. Upaya pengembangan produk dan pasar halal global salah satunya dilakukan dengan  membangun jalinan kerjasama berupa Global Halal-Hub. Bagaimanakah kesiapan Indonesia dalam menghadapi perkembangan agroindustri halal global? Mari kita bangun berasama.

Pustaka

  • Che Man. 2006 Halal Food Development Institute of Halal Food  Universiti Putra Malaysia, Kuala Lumpur
  • Gumbira-Sa’id E dan Instan AH. 2004. Manajemen Agribisnis. Cetakan Kedua. Kerjasama PT. Galia Indonesia Deñan Magister Manéjenme Agribisnis. Pertanian Bogor. Bogor.
  • Gumbira-Sa’id E. 2008. Perkembangan Bisnis Produk Pangan Halal Dunia. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
  • Purnomo, D. 2011. . Halal Agro-industry Development Strategy In Anticipating Global halal Business. IPB. Bogor
  • Sungkar I. 2007. Importance and the Role Importance of Market Intelligence in Penetrating Global Halal Food Marketshalal Markets.World Halal Forum Secretariat, Kuala Lumpur. The Potential of Halal Industry in Penang, Penang Economic Monthly, 2006

3 thoughts on “AGROINDUSTRI HALAL

  1. Setuju,agroindustri halal saat ini tidak dapat dilepaskan dari sistem agribisnis secara keseluruhan,khususnya bagi konsumen beragama islam,karena saat ini konsumen masih sulit mendapatkan kepastian halal dari suatu produk makanan..Mohon bimbingannya Pa Dwi tentang agroindustri halal ini..Terima Kasih

  2. THANKYOU SO MUCH YOUR OPINION ABOUT AGROINDUSTRI I TAKE FOR MATERIAL LEARNING IN AGORINDUSTRY POLITANI NEGERI PANGKEP FROM MURSIDA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s