BISNIS HALAL GLOBAL DAN TANTANGAN BAGI PRODUSEN INDONESIA

Diterbitkan pada harian Republika Rubrik Istiqodia , Kamis, 25 Oktober 2012

Oleh: E. Gumbira-Sa’id dan Dwi Purnomo                                                              

Globalisasi sistem perdagangan yang berjalan dengan cepat menyebabkan terjadinya perubahan, baik dalam segi persaingan global, maupun dalam perubahan perilaku ataupun paradigma dan kinerja produsen maupun konsumen.  Selain itu, paradigma masyarakat yang senantiasa berubah telah menyebabkan meningkatnya permintaan  jaminan dan  perlindungan atas produk yang dikonsumsinya menjadi tuntutan yang tidak dapat dielakkan lagi. Tuntutan akan standar mutu produk yang tinggi yang menjamin kemanan dan asal-usul produk menjadi perhatian yang tinggi dari masyarakat internasional pada saat ini. Di lain pihak, komunitas muslim internasional juga semakin kritis dan meminta jaminan yang tinggi akan kehalalan maupun mutu produk yang akan dikonsumsinya.

Oleh karena itu, persyaratan halal menjadi semakin penting untuk dipenuhi, karena pasar kelompok pangan halal saja telah melibatkan sekitar 150 negara,  yang besaran total konsumsi masyarakat Muslim saja nilainya  mencapai sekitar US$ 800 Miliar per tahun, serta  menghasilkan aktivitas perdagangan halal internasional sebesar USD 250 Miliar per tahun (Purnomo et al, 2011).  Dari tahun ke tahun nilai pasar halal menunjukkan perkembangan yang pesat. Pangsa pasar produk halal saat ini sudah mencapai 16 persen dari pasar produk makanan dunia. Sebesar  63 persen produk halal global diperdagangkan di pasar Asia, 23,8 persen di kawasan Afrika, 10,2 persen di kawasan Eropa dan sisanya di Amerika dan Oseania (WHF, 2010).

Dari pengkajian tren bisnis halal yang meningkat, terutama di Timur Tengah dan Asia,  para pelaku bisnis global yang merupakan perusahaan-perusahaan multinasional,  seperti Nestle, KFC, Mc Donald’s, Coca Cola, Pizza Hut dan lain-lain dengan cerdas memanfaatkan bisnis yang sangat menggiurkan tersebut (Gumbira-Said 2008). Bahkan dalam empat tahun terakhir, dari arena pameran-pameran pangan internasional, khususnya di pameran Malaysian International Halal Showcase (MIHAS) jumlah dan keragaman produk-produk pangan yang telah mendapatkan sertifikasi halal juga semakin meningkat jumlah, maupun produsennya.

Perkembangan bisnis halal dalam perspektif bukan saja halal secara syariah, tetapi mempersyaratkan standar mutu yang tinggi telah meningkat dengan pesat. Hal ini secara nyata dapat dideteksi dari  volume perdagangan produk halal, jumlah negara yang terlibat dalam bisnis halal, tingkat kesadaran konsumen internasional, keterlibatan perusahaan-perusahaan multinasional dan lokal di setiap negara dalam memproduksi produk halal serta kenaikan presentase bisnis halal dalam bisnis internasional, yang secara umum menunjukkan bahwa, bisnis halal telah menjadi bagian penting dari bisnis global, terutama dalam hal produk-produk makanan dan Fast Moving Consumer Goods yang sudah mulai diterima masyarakat global sebagai produk yang memiliki mutu yang baik.

Perkembangan pasar halal juga didorong oleh meningkatnya kesadaran konsumen akan pentingnya mutu dan keamanan produk yang dikonsumsinya. Terdapat pergeseran persepsi konsumen atas konsepsi halal yang tidak lagi dipertimbangkan murni hanya karena masalah keagamaan, melainkan menjadi simbol global untuk jaminan mutu dan pilihan gaya hidup. Halal yang mengakomodasi kebutuhan konsumen mulai diakui sebagai tolok ukur baru untuk keamanan yang kemudian berkembang menjadi arena pasar yang paling menguntungkan dan berpengaruh. Lebih jauh lagi bisnis halal tdak hanya mencakup kelompok produk pangan, namun juga kelompok produk non-pangan, jasa halal dan bahkan sistem keuangan halal.

Isu-su dan peristiwa internasional yang terkait keamanan, kebersihan dan jaminan mutu  produk turut juga membangkitkan kesadaran konsumen yang semakin sadar dan menyebabkan tuntutannya menjadi tidak dapat ditoleransi lagi. Rangkaian peristiwa-peristiwa geopolitik, masalah kepentingan umum, makanan yang sehat dan aman serta permintaan konsumen secara keseluruhan telah mendorong isu halal sebagai isu utama mutu, harga produk dan preferensi konsumen.

Dengan demikian, para produsen di seluruh dunia berlomba untuk memanfaatkan potensi belanja dua miliar konsumen Muslim di seluruh dunia. Secara internasional nilai bisnis halal yang semakin membesar juga berpengaruh pada perilaku konsumen global yang semakin terbuka menerima terminologi halal sebagai produk yang memiliki mutu yang tinggi sehingga dapat dipertanggungjawabkan dan diterima sebagai produk global (Purnomo et al, 2011).

Lebih menarik lagi karena komunitas Muslim bukanlah satu-satunya komunitas yang mengkonsumsi produk halal,  tetapi telah merambah ke komunitas lain yang mengenal halal sebagai produk yang memiliki mutu yang tinggi. Selain di negara-negara Islam, pasar halal di Eropa juga berkembang dengan cukup signifikan, yakni dengan jumlah penduduk muslim sekitar 57 juta jiwa dan  dengan kemampuan ekonomi yang cukup baik. Ketertarikan terhadap produk halal juga telah meluas hingga kalangan non-muslim. Pada negara-negara non-muslim, pasar utama pangan halal dunia terdapat di India (dengan populasi penduduk muslim sekitar 248 juta jiwa), Perancis (6 juta muslim), Republik Rakyat Cina (RRC) (134 juta muslim), Jerman (4,1 juta muslim), Amerika Serikat (6,6 juta muslim), Inggris (2,1 juta muslim), Filipina (10 juta muslim), dan Kanada (1 juta muslim), (www.islamicpopulation.com, 2012).

Negara-negara Eropa, Amerika Serikat, Kanada, Australia dan Selandia Baru adalah negara-negara pengekspor produk bersertifikat halal yang memiliki orientasi yang tinggi terhadap mutu. Perkembangannya juga diindikasikan dengan kesediaan supermarket besar di Eropa untuk  mengambil peluang bisnis pada produk halal lain selain daging,  seperti produk pangan olahan kemasan, makanan siap saji, makanan ringan, minuman, produk toileteries, kosmetik dan produk-produk kesehatan. Di luar negara-negara di atas yang menetapkan posisi harga yang relatif tinggi, Brazil, India, China dan Russia merupakan negara-negara eksportir produk halal raksasa dunia yang berorientasi pada harga yang rendah (Dahlan, 2009).

 Di wilayah Asia Tenggara (ASEAN), Malaysia dan Thailand merupakan negara-negara yang sangat aktif dalam memanfaatkan peluang pasar halal global. ASEAN dipelopori Malaysia berkembang sebagai pusat produksi dan pemasaran produk halal global yang dilakukan dengan kerjasama antar negara ASEAN atau dikenal sebagai ASEAN Halal-Hub dimana Malaysia memposisikan diri menjadi satu-satunya pintu bagi seluruh produk makanan halal yang hendak dipasarkan oleh negara-negara yang lain.

Oleh karena itu, fakta di atas  menjadi tantangan besar bagi Indonesia, untuk menjadikan bisnis halal sebagai  landasan pengembangan industri agronya, karena Indonesia memiliki sumberdaya agro yang sangat baik, dan merupakan pasar produk halal yang sangat besar. Seharusnya, kekuatan yang dimiliki Indonesia tersebut dapat dijadikan peluang untuk dapat memperkuat kemampuan kompetitif industri agronya dalam menghasilkan produk-produk bermutu tinggi serta melindungi pasar domestik dari serangan produk asing (non-tariff barier). Di lain pihak, dalam jangka panjang Indonesia diharapkan mampu memanfaatkan peluang pasar global sebagai produsen produk halal unggulan

Para pelaku kepentingan industri agro, dimotori oleh pemerintah Indonesia seyogianya segera berkonsolidasi untuk memberdayakan segenap potensi yang ada untuk bersinergi merumuskan kebijakan yang tepat sebagai tindakan antisipatif dan strategis dalam pengembangan produk halal nasional sehingga memberikan manfaat baik secara sosial maupun ekonomis. Hal ini terutama harus segera dilakukan  agar Indonesia tidak  hanya sekedar pasar terbesar, namun juga pelaku utama produsen produk halal tertbesdar  di dunia. Insya Allah.

*) E. Gumbira – Sa’id  adalah Guru Besar Teknologi Industri Pertanian- Fateta, dan Program Pasca sarjana MB-IPB; sedangkan  Dwi Purnomo  adalah Dosen Fakultas Teknologi Industri Pertanian Unpad.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s