Konsepsi Halal Harus Jadi Jaminan Mutu Tertinggi, Bukan Hanya Terkait Perspektif Syariah

sumber : Unpad.ac.id

[Unpad.ac.id, 25/02/2013] Label halal ternyata bukan saja menjadi pertanda makanan yang bisa dimakan dalam perspektif syariah. Dewasa ini, beberapa produsen makanan memberi label halal bukan hanya terkait dalam aspek agama, namun lebih pada aspek mutu produk. Sehingga, kini konsepsi halal telah mengacu pada jaminan mutu tertinggi yang dimiliki oleh suatu produk.

Dr. Dwi Purnomo, STP., MT (Foto: Dadan T.)*

Bagi Dr. Dwi Purnomo, STP., MT., dosen Fakultas Teknologi Industri Pertanian Unpad, tren beberapa produk makanan di dunia saat ini sudah mengarah kepada agroindustri halal. Agroindustri halal tersebut mencakup konsepsi mutu dalam suatu produk yang dilihat berdasarkan proses dari hulu ke hilir.

“Halal adalah konsepsi mutu tertinggi dibandingkan dengan konsepsi mutu lainnya. Kalau kita beli produk yang halal, maka sudah dipastikan mutunya paling tinggi,” ujar Dr. Dwi saat ditemui pada Rabu (20/02) lalu.

Sertifikasi halal dalam suatu produk sangatlah penting. Hal tersebut terkait dengan jaminan mutu dalam suatu produk, juga sebagai jaminan kepercayaan bagi para konsumennya. Seiring dengan perkembangan zaman, konsumen akan cenderung memilih produk yang telah bersertifikasi halal berdasarkan keyakinan bahwa produk halal sudah pasti memiliki mutu yang baik.

“Kenyataannya, label halal di Indonesia masih sebatas voluntary, bukan mandatory. Dalam artian, produsen masih memberi label halal secara sukarela bukan karena kewajiban. Padahal, Indonesia adalah pangsa produk halal terbesar di dunia,” ungkap Dr. Dwi.

Sebagai pangsa produk halal terbesar, Indonesia sendiri ternyata masih belum mampu menjadi produsen produk halal terbesar. Saat ini Indonesia masih mengimpor produk-produk halal dari beberapa negara, seperti Malaysia dan Thailand. Kurangnya kekompakan antara stakeholder(pemerintah, produsen, dan masyarakat) dalam menciptakan visi yang sama mengenai produk halal, menjadi salah satu penyebab mengapa Indonesia belum mampu menjadi produsen produk halal terbesar.

“Malaysia sendiri sudah punya visi menjadi produsen halal terbaik di dunia. Di beberapa negara lain pun sudah concern terhadap produk halal. Mereka sudah punya pelabuhan halal sendiri, kawasan industri halal, bahkan dapur di beberapa restoran pun sudah menerapkan ruang dapur khusus untuk memasak produk halal,” jelasnya.

Oleh karena itu, agroindustri halal menjadi bidang kepakaran bagi Dr. Dwi. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh banyaknya hasil-hasil pertanian Indonesia yang memiliki nilai tambah apabila diolah menjadi produk yang bermutu. Oleh karena itu, perlu ada kesadaran khususnya bagi para produsen produk halal di Indonesia bahwa label halal bukan sekadar faktor syariah, tetapi sebagai faktor mutu tertinggi suatu produk.

“Ini yang belum disadari oleh produsen produk halal, bahwa sertifikasi produk halal sangat penting untuk meningkatkan mutu produk, sehingga ada jaminan kepercayaan mutu yang didapat oleh konsumen,” tuturnya.

Dr. Dwi sendiri memiliki visi menjadikan agroindustri halal sebagai lokomotif ekonomi Indonesia di masa yang akan datang. Terkait dengan hal tersebut, di bidang akademik pun perlu ada upaya untuk mengembangkan kelimuan yang berbasis halal science, salah satunya dengan mendirikan Halal Centre, sebagai pusat penelitian agroindustri halal.

“Di Unpad sendiri belum ada Halal Centre, namun ada rencana untuk bekolaborasi membentuk lembaga tersebut. Dengan mengembangkannya, kita turut punya andil mengembangkan agroindustri halal di Indonesia,” ungkapnya.

Melalui kepakarannya inilah, Dr. Dwi menjadi pembicara pada beberapa seminar hingga tingkat internasional. Bahkan, pada tanggal 18-19 Februari lalu Dr. Dwi mendapat prestasi Best Papaer Awardbidang pendidikan dalam Konferensi Nasional Inovasi dan Technopreneurship 2013  yang diselenggarakan oleh RAMP Institut Pertanian Bogor (IPB), Departemen Teknologi Industri Pertanian IPB, The Lemeison Foundation, dan Dirjen Dikti Kemendikbud RI.

Paper yang berjudul “Konsep Design Thinking bagi Pengembangan Rencana Program dan Pembelajaran Kreatif dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi” ini adalah hasil pemikiran Dr. Dwi mengenai pengembangan kurikulum berbasis kompetensi.

“Selama ini ada hambatan dalam penyusunan rencana program pembelajaran semester. Melalui papertersebut, saya merumuskan metode pembelajaran dari taksonomi bloom, yang dikawinkan dengan sistem pembelajaran kreatif dengan metode design thinking. Ini akan lahirkan metode kompetensi pembelajaran yang unggul,” ujar dosen yang lahir di Bandung, 9 Mei 1980.

Sebagai seorang dosen dan peneliti, Dr. Dwi berharap apa yang dilakukannya dapat memberikan kontribusi yang luas bagi masyarakat. “Ini sesuai dengan filosofi pertanian, yakni bermanfaat bagi masyarakat banyak. Melalui pertanian, saya bisa menemukan banyak hal yang bisa berkontribusi banyak bagi keilmuan dan masyarakat,” pungkasnya.*

Laporan oleh Maulana / eh *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s