Wanita Pemberdaya dari Leuweung Tangkil

 

20130222_084718Emping melinjo selama ini dipandang sebelah mata sebagai teman makan yang tidak lebih bernilai dari pada penganan tradisional lainnya karena lebih dipandang sebagai penyebab asam urat dengan nilai ekonomis redah, namun pada kenyaataannya peminat emping melinjo masih sangat besar terlebih karena keunikan rasa dan aromanya yang khas.

Rasa yang gurih dan teksturnya yang renyah ternyata memiliki latar belakang cerita perjuangan yang panjang. Di Desa Narimbang Kabupaten Sumedang, sebuah lokasi terpencil di tepi Gunung Tampomas Jawa Barat ternyata menyimpan geliat ekonomi yang sangat baik melalui kegiatan agroindustri berbasis melinjo. Kegiatan ini mampu memberikan nilai tambah signifikan bagi pengembangan perekonomian setempat. Dibalik infrastruktur yang terbatas, semangat warganya sungguh memberi inspirasi, tidak pupus begitu saja karena letaknya yang terpencil, namun tetap bergeliat dengan semangat yang memacu untuk tetap memiliki produktivitas yang tinggi.

Desa Narimbang, dikarunai alam yang sangat indah, mengandung banyak potensi sumber daya alam dan pertanian yang sangat bernilai dan menjadikannya sebagai salah satu sentra penghasil emping melinjo yang terbesar di Jawa yang cukup baik mutunya. Emping melinjo dihasilkan dengan memberdaakan puluhan kelompok dan salah satu penghasilnya adalah kelompok yang dipimpin oleh seorang Ibu bernama Epon dengan Merknya Neng Hery. Kelompok ini dalam kesehariannya mampu memberikan cerita lain dari sekedar sekeping emping yang dibalik itu terdapat upaya bernilai pembelajaran dan penghargaan yang sangat tinggi dalam membangun warga disekitarnya dengan dedikasi dan kesungguhan yang tinggi sehingga mampu menjadi lokomotif perekonomian melalui produksi emping melinjo.

Proses produksi emping melinjo yang sederhana pada umumnya beasal dari sebuah dapur berwujud dapur produksi yang biasa dibahasakan sebagai hawu, hawu yang berwarna kehitaman dikarenakan jelaga api pembakaran tungku-tungku sangrai melinjo yang menyala dari pagi hinga sore hari.  Dilengkapi dengan alas batu berdiamater 50cm, dan tampak beraneka macam kampak baja kecil yang dipergunakan untuk menumbuk melinjo mejadi ribuan keeping emping setiap harinya.

Meskipun produknya terlihat cantik namun dan dibalik kesedehanaan produk dan proses produksinya tersebut, ternyata agroindustri melinjo ini menyimpan berbagai permasalahan pelik dari hulu ke hilir, salah satunya adalah ketersediaan sepanjang tahun yang sulit karena ketika panen raya yang berlangsung satu tahun sekali, jumlah bahan baku yang sangat besar belum diimbangi dengan adanya teknologi penyimpanan  sehingga mutu buah melinjo menurun dengan berbagai sebab dan menyebabkan kelangkaan di tengah musim non-panen.

Dari sisi pengrajin, walaupun pengolahan emping melinjo dilakukan oleh para wanita secara tradisional telah dilakukan turun menurun sejak puluhan tahun lamanya juga menyimpan beberapa permasalahan. Dalam proses pembuatannya, para pengrajin emping duduk di lantai yang dekat dengan tungku pembakaran. Hal ini dilakukan dalam jangka panjang sehingga dapat mengakibatkan efek buruk bagi kesehatan pengrajinnya. Beberapa diantaranya adalah dampak pada penglihatan karena asap pembakaran, bentuk tulang punggung yang perlahan berubah, tangan kanan yang lebih besar dikarenakan penggunaan tangan kanan untuk menumbuk selama enam-tujuh jam per harinya, hingga keluhan penurunan fungsi ginjal karena posisi duduk yang terus menerus dilakukan selama bertahun-tahun.

Dibalik berbagai kesederhanaan dan ancaman kesehatan bagi pengrajinnya, emping melinjo berhasil bertahan sebagai usaha yang merakyat. Ibu Epon, seorang wanita pemberdaya wanita lainnya di Desa Narimbang, perlu diapresiasi peranannya dengan semangatnya untuk memberdayakan wanita di Desa ini untuk memproduksi emping melinjo dengan mutu yang unggul. Disertai dengan usahnya mencari jawaban atas berbagai permasalahan yang dihadapinya dengan mau dan berani mengembangan jejaring perkenala dan usahanya dari berbagai keahlian. Dengan menaungi tujuh hingga sembilan kelompok  wanita dengan anggota per kelompok wanitanya mencapai lima hingga tujuh orang mampu menciptakan geliat ekonomi yang sangat baik di sebuah desa di tepi hutan melinjo atau yang biasa disebut sebagai leuwueng tangkil ini.

Pemberdayaan inilah yang senantiasa pelu dicontoh oleh masyarakat luas, terutama generasi muda. Disinilah diuji ketulusan bagaimana sebuah usaha dirintis dengan mengutamakan kemajuan bersama dan dilakukan secara persisten dan berkelanjutan meski di daerah terpencil sekalipun. Pendekatan dengan hati adalah istilah yang tepat dipilih karena pendekatan yang dilakukan dengan mengutamakan kekeluargaan namun dengan kandungan profeisonal yang sangat kental. Ibu Epon, adalah tauladan bagi pengembangan usaha berbasis masyarakat dipedesaan yang pantang menyerah dimana secara perlahan mampu memberikan nilai tambah dari komoditas yang sebelumnya terpinggirkan menjadi komditas yang memiliki pasar yang luas. Keinginannya dalam pengembangan komoditas melinjo berkelanjutan diikuti dengan kemampuan lifetime learning yang sangat baik, keberaniannya dalam mengembangkan jejaring perlu ditauladani sehingga sosok wanita sederhana ini mampu memberdayakan bagitu banyak wanita yang menjadi tulang punggung perekonomian di daerahnya. Sebuah tauladan bagi bentuk kewirausahaan yang tidak semata-mata berorientasi komersil, namun dari sebuah niatan dan tujuan untuk menghasilkan social benefit melaui proses pembelajaran yang ditekuni secara serius. Proses tersebut berakibat pada peningkatan ekonomi yang signifikan bukan saja pada pelaku, namun bagi banyak pengrajin yang bernaung dibawahnya. Bukan hanya itu proses yang dilakukannya juga sangat berarti bagi kalangan lain seperti perguruan tinggi yang memperoleh berbagai topik dan hasil penelitian yang baik dari hasil pengalamannya serta pihak-pihak lain yang berhasil direkatkan melalui jejaring yang baik.

Penulis : Dr. Dwi Purnomo

Dosen Fakultas Teknologi Industri Pertanian Unpad

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s